Berita Nasional Terkini
Ustaz Abdul Somad Emosional Jelaskan Mengapa Bangsa Israel tak Dibinasakan, Ternyata Ini Tujuannya
Ustaz Abdul Somad emosional jelaskan mengapa bangsa Israel tak dibinasakan, ternyata ini tujuannya.
TRIBUNKALTIM.CO - Konflik Israel dan Palestina jadi sorotan publik dunia.
Ketegangan di Jalur Gaza menuai banyak reaksi di berbagai belahan dunia, baik Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Salah satu ustaz kondang tanah air tak luput untuk bereaksi atas apa yang dilakukan Israel kepada bangsa Palestina.
Sambil berlinang air mata Ustaz Abdul Somad emosional menjelaskan mengapa bangsa Israel tak dibinasakan Allah SWT sejak dulu.
Pertanyaan itu juga telah ditanyakan ustaz yang kerap disapa UAS itu kepada gurunya ketika masih studi di Mesir.
Ustaz Abdul Somad emosional jelaskan mengapa bangsa Israel tak dibinasakan, ternyata ini tujuannya.
Baca juga: Kisah Dramatis Negosiasi Jurnalis dengan Intelejen Israel Sebelum 2 Kantor Media di Jalur Gaza Dibom
Baca juga: Potret Gigih Anggota KKB Papua, Kena Tembak TNI/Polri Masih Sempat Kabur Bawa AK-47 Rekan yang Tewas
Memanasnya konflik Israel dan Palestina sontak mengundang reaksi sejumlah publik figur di Indonesia.
Tak terkecuali ulama kondang, Ustadz Abdul Somad ( UAS).
Baru-baru ini melalui unggahannya di Instagram, Ustadz Abdul Somad membahas soal Konflik Israel dan Palestina.
Ia sempat bertanya kepada ulama mengapa Allah SWT tidak membinasakan Israel.
"Israel kenapa tidak dibinasakan sama Allah, kenapa tidak dimatikan Allah?
Baca juga: NEWS VIDEO Detik-detik Penghancuran Kantor Media di Jalur Gaza, Israel Hanya Beri 1 jam Evakuasi
Menangis Syekh Abdul Karim al-Maqdisi menceritakan ini kepada Syekh Abdul Sattar," ujar Ustadz Abdul Somad, Jumat (14/5/2021).
Saat mengatakan hal tersebut, Ustadz Abdul Somad tak kuasa menahan air matanya.
Sebelumnya, Ustadz Abdul Somad juga sempat menyinggung soal kaum Ad Nabi Nuh yang dibinasakan oleh Allah.
Tak hanya itu saja, kaum tsamud Nabi Saleh juga dibinasakan oleh Allah.
Lantas, mengapa Israel tak dibinasakan oleh Allah SWT?
Baca juga: NEWS VIDEO Penampakan Hancurnya Permukiman Jalur Gaza akibat Perang Israel Palestina
"Aku sekarang ceritakan itu kepada kalian dengan berlinang air mata. Kenapa (bIsrael) tidak dibinasakan oleh Allah?" kata Ustadz Abdul Somad.
"kaum Ad mati hancur, kaum Tsamud mati. Kenapa terlaknat ini (Israel) masih hidup?" imbuhnya.
Hal itu rupanya juga pernah ia tanyakan kepada gurunya, Syekh Muhammad Jibril.
Ustadz Abdul Somad pun menjawab pertanyaan mengapa Israel tidak dibinasakan oleh Allah.
"Pertanyaan ini pernah kutanyakan pada guruku di Al Azhar.
Baca juga: Ke Abu Janda, Tentara Muslim Israel Mengaku Perang Lawan Teroris, Ketua KNPI Meradang Bela Palestina
Syekh Muhammad Jibril kenapa Allah tidak binasakan Israel? Kenapa Allah tidak binasakan Israel di Palestina?" kata Ustadz Abdul Somad.
"Kalau Allah membinasakan Israel, lalu kau masuk surga pakai apa? Allah biarkan mereka hidup supaya kau berjihad di jalan Allah," sambungnya.
Di akhir video, Ustadz Abdul Somad mengingatkan umat Muslim untuk belajar setinggi mungkin agar bisa menolong warga Palestina.
"Belajar engkau serius sampai doktor, sampai profesor lalu dengan uangmu, hartamu dengan ilmumu kau akan menolong saudaramu," ungkap Ustadz Abdul Somad.
Bocah Palestina Ini Menangis Histeris Ayahnya Tewas Karena Roket Israel
Ketegangan antara Israel dan Palestina meningkat justru di hari-hari terakhir bulan Ramadhan, jelang Idul Fitri 2021.
Israel menembakkan roket ke arah pemukiman penduduk di Palestina hingga membuat beberapa orang meninggal dunia.
Baca juga: Bungkam 2 Media, Israel Ledakkan Kantor Al Jazeera dan AP, Jurnalis Turuni Tangga dari Lantai 11
Satu video memilukan yang banyak beredar di media sosial adalah tangis pilu seorang bocah lelaki yang kehilangan ayahnya dalam peristiwa itu.
Dari foto yang diambil fotografer Al Jazeera, Hosam Salem, bocah itu ternyata anak dari Saber Suleiman (39) dikutip dari artikel Tribun Solo berjudul 'Video Pilu Bocah Palestina Histeris, Ayah Tewas karena Roket Israel : Ayah, Biar Aku Saja yang Mati!'.
Tak dijelaskan secara rinci oleh Al Jazeera bagaimana Saber Suleiman meninggal.
Tapi, dijelaskan Saber meninggal bersama anaknya yang lain, Mohammed di Gaza.
Satu anak Saber yang meninggal, berusia 16 tahun.
Baca juga: 10 Menit yang Sangat Berharga, Begini Dialog Jurnalis dan Tentara Israel Sebelum Gedung Digempur
Anak Saber yang lebih kecil, memakai kaus berwarna biru gelap, histeris di pemakaman ayahnya itu.
Ia berlari dan terus menerus berteriak : "Ayah ! Ayah! Selamat jalan Ayah! Mengapa kau meninggalkan kami?,"
Sejumlah pria kewalahan menenangkan anak Saber itu.
Ia tenang setelah seorang pengangkat jenazah mengatakan : "Sini, sini, bawa jenazah dua bersama kami,"
Di pemakaman, ia kembali histeris.
Baca juga: Hadiri Pertemuan OKI, Menlu Retno: Sudah Terlalu Lama Hak-hak Rakyat Palestina Digerogoti Israel
"Ayah! Aku cinta kamu, wahai kekasihku!,"
"Aku berharap aku saja yang mati daripada kau!," kata bocah itu sambil menengadahkan tangan ke langit.
Serangan Israel ke Palestina masih terus berlanjut jelang Hari besar umat Muslim, Idul Fitri.
Media Al Jazeera per Rabu (12/5/2021) melansir, setidaknya 26 orang, termasuk 9 anak-anak, meninggal di Gaza terkena serangan udara Israel.
Roket Israel tidak hanya menyasar Hamas (pasukan lawan militer Israel), tapi juga bangunan perumahan publik.
Baca juga: Akhirnya Jokowi Tak Tinggal Diam Lihat Palestina Terus Digempur Israel, Sudah Bicara dengan Erdogan
Sebuah bangunan pemukiman 13 lantai di kawasan Rimal, Gaza dibom, sehingga 3 warga Palestina tewas.
Video juga menunjukkan warga berlarian dari pemukiman al-Jundi dalam kondisi panik, sementara anak-anak menangis dan dalam kondisi berlumur debu puing.
Sejauh ini, diyakini Israel telah menembakkan 130 roket ke Gaza, tempat dari sekitar 2 juta warga Palestina bermukim.
Sementara, diperkirakan Israel telah membunuh 15 anggota Hamas dan sejumlah anggota pasukan paramiliter anti-Israel.
Kantor Berita Dibom Israel
Ketegangan Israel dan Palestina makin menjadi-jadi.
Militer Israel tak hanya menyerah pejuang Palestina atau kelompok Hamas.
Terbaru militer Israel mengarahkan serangannya ke kantor berita yang berada di Jalur Gaza
Ya, kantor media Al Jazeera dan Associated Press jadi korban pemboman militer Israel.
Beberapa kisah dramatis terungkap, salah satunya saat seorang jurnalis bernegoisasi dengan intelejen Israel sebelum pemboman kantor media tersebut.
Tanpa ampun, militer Israel tak menggubris permohonan jurnalis yang meminta tenggat waktu untuk evakuasi sebelum bom menghancurkan tempat penghidupannya.
Kabarnya, Israel berdalih kantor berita tersebut jadi markas kelompok Hamas, sebab itu mereka melancarkan serangan ke kantor berita di Jalur Gaza.
Kendati demikian klain Israel belum ada bukti yang bisa dipertanggungjawabkan.
Berikut kisah dramatis negoisasi jurnalis dengan intelejen Israel sebelum kantor media Al Jazeera dan Associated Press dibom.
Cek selengkapnya dalam artikel ini, yang melansir dari berbagai sumber.
Baca juga: KEKUATAN Pasukan AL Qasam Pejuang Palestina Penghancur Israel, Militer Hamas Punya 30 Ribu Prajurit
Baca juga: Potret Gigih Anggota KKB Papua, Kena Tembak TNI/Polri Masih Sempat Kabur Bawa AK-47 Rekan yang Tewas
Gedung menara Al Jalaa, gedung berlantai 11 di Jalur Gaza, yang jadi pusat kegiatan jaringan media Al Jazeera dan kantor berita Associated Press dibombardir hingga hancur oleh Militer Israel Sabtu (15/5/2021).
Video pengeboman tersiar luas, sangat dramatis.
Dua sayap bangunan rontok dalam beberapa detik setelah bom menghantam dasar gedung yang lampunya masih tampak menyala.
Israel mengklaim gedung itu jadi target militer yang sah karena dijadikan pusat pengumpulan intelijen dan tujuan lain oleh kelompok Hamas yang mengontrol Jalur Gaza.
Pengeboman berlangsung terencana, terkoordinasi, dan satu jam sebelum bom-bom berledakan, intelijen Israel telah memberitahu seisi gedung dan pemiliknya.
Kantor berita Associated Press yang berpusat di AS, dan Al Jazeera yang bermarkas di Doha, Qatar, mengeluarkan pernyataan bersama mengutuk pemboman itu.
Presiden dan CEO AP Gary Pruitt mengatakan mereka merasa terkejut dan ngeri militer Israel menargetkan dan menghancurkan gedung itu.
Sebab, kata Gary Pruitt, dikutip dari Aljazeera, Minggu (16/5/2021), Israel telah lama tahu kantor biro mereka ada di gedung itu.
"Kami akan cari tahu dari pemerintah Israel dan Departemen Luar Negeri AS untuk mencoba mempelajari masalah ini lebih lanjut," katanya.
Pruitt mengakui, biro menerima peringatan sejam sebelumnya dari Israel, dan meminta mereka mengevakuasi diri dari gedung.
“Selusin jurnalis AP dan freelancer berada di dalam gedung dan untungnya kami bisa mengevakuasi mereka tepat waktu,” pungkasnya.
Baca juga: NEWS VIDEO Komunikasi dengan Negara Lain, Jokowi: Agresi Israel ke Palestina Harus Dihentikan
Baca juga: Polemik Reda Sejak Bobby Nasution ke Rumah Gubernur Sumut, Edy Melunak Akui Mantu Jokowi Keluarga
Sementara Al Jazeera menuduh pemerintah Israel mencoba membungkam media yang menyaksikan, mendokumentasikan, dan melaporkan apa yang terjadi di Gaza.
"Ini adalah kejahatan di antara serangkaian kejahatan yang dilakukan tentara Israel di Jalur Gaza," kata Kepala Biro Al Jazeera Yerusalem, Walid al-Omari.
Setelah pemboman menara, seorang pembawa berita Al Jazeera edisi bahasa Inggris menyatakan tetap mengudara.
“Saluran ini tidak akan dibungkam. Al Jazeera tidak akan dibungkam," katanya.
Detik-detik Sebelum Bom Menghantam Gedung
Lantas bagaimana momen-momen sebelum bom menghantam bangunan jangkung di Jalur Gaza itu? Jurnalis lepas Palestina, Youmna al-Sayed, hanya memiliki waktu kurang dari satu jam untuk sampai ke tempat aman.
Gedung berlantai 11 itu hanya memiliki satu lift yang berfungsi.
Di bangunan itu terdapat 60 apartemen hunian, kantor media Al Jazeera Media Network dan The Associated Press, serta beberapa kantor layanan lain.
"Kami memprioritaskan lift untuk orang tua dan anak-anak saat evakuasi," kata Youmna al-Sayed. “Kami semua berlari menuruni tangga dan siapa pun yang bisa membantu anak-anak menurunkan mereka," tambahnya.
“Saya sendiri membantu dua anak penghuni di sana dan saya membawa mereka ke bawah, semua orang berlari cepat,” imbuhnya.
Baca juga: NEWS VIDEO Detik-detik Penghancuran Kantor Media di Jalur Gaza, Israel Hanya Beri 1 jam Evakuasi
Beberapa saat sebelumnya, pihak Israel, yang telah membombardir Gaza selama enam hari berturut-turut, memberi peringatan lewat telepon ke semua yang ada di gedung.
Mereka diberi waktu sejam meninggalkan bangunan itu, sebelum jet-jet tempur Israel akan menggempurnya.
Safwat al-Kahlout dari Al Jazeera juga harus bergerak cepat. Dia dan rekan-rekannya mulai mengumpulkan peralatan sebanyak yang mereka bisa bawa.
“Mulai kelengkapan pribadi dan peralatan kantor, terutama kamera", kata al-Kahlout. Tapi waktu sejam tidak cukup buat mereka.
“Beri saya waktu 15 menit,” seorang jurnalis AP memohon melalui telepon ke seorang perwira intelijen Israel.
“Kami punya banyak peralatan, termasuk kamera, dan lain-lain,” imbuhnya dari luar gedung. "Aku bisa mengeluarkan semuanya," kenangnya waktu itu.
Jawad Mahdi, pemilik gedung, juga mencoba mengulur waktu.
"Yang saya minta adalah membiarkan empat orang ... masuk ke dalam dan mengambil kamera mereka," katanya kepada petugas itu.
"Kami menghormati keinginan Anda, kami tidak akan melakukannya jika Anda tidak mengizinkannya, tetapi beri kami 10 menit," desak Jawad Mahdi.
“Tidak akan ada 10 menit,” jawab petugas intelijen Israel itu. "Tidak ada yang diizinkan memasuki gedung, kami sudah memberi Anda waktu satu jam untuk mengungsi," imbuhnya.
Ketika permintaan itu ditolak, Mahdi berkata, “Kamu telah menghancurkan pekerjaan hidup kami, kenangan, hidup. Saya akan menutup telepon, melakukan apa yang Anda inginkan. Oh Tuhan," katanya.
Klaim Israel bahwa ada kepentingan intelijen militer Hamas di gedung itu menurutnya tidak cukup bukti.
“Saya telah bekerja di kantor ini selama lebih dari 10 tahun dan saya tidak pernah melihat sesuatu yang (mencurigakan),” kata al-Kahlout.
"Saya bahkan bertanya kepada rekan-rekan saya apakah mereka melihat sesuatu yang mencurigakan dan mereka semua menegaskan tidak pernah melihat aspek militer atau bahkan para pejuang keluar masuk," tambahnya.
“Di gedung kami, kami memiliki banyak keluarga yang kami kenal selama lebih dari 10 tahun, kami bertemu satu sama lain setiap hari dalam perjalanan keluar-masuk kantor,” katanya
Baca juga: NEWS VIDEO Penampakan Hancurnya Permukiman Jalur Gaza akibat Perang Israel Palestina
Presiden dan CEO Associated Press Gary Pruitt memperkuat penjelasan itu. Selama 15 tahun berkantor di bangunan itu, Ap tidak merasa ada kehadiran kelompok Hamas.
Wartawan AP, Fares Akram, mengenang momen penghancuran gedung itu bercerita, dia tidur di kantor setelah malam yang panjang melelahkan meliput pengeboman Israel.
Tiba-tiba teman-temannya berteriak, “Evakuasi! Pengungsian!". Akram mengambil apa yang dia bisa bawa. Laptop, beberapa barang elektronik, dan beberapa barang dari mejanya.
(*)
Editor: Muhammad Fachri Ramadhani