Berita Kaltim Terkini
Isu PLTU di Kalimantan Timur Tidak Beroperasi, Ditanggapi Kadis ESDM Kaltim Benny
Isu tutupnya beberapa Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dibantah langsung oleh kepala Dinas ESDM Kaltim C.Benny di Kota Samarinda
Penulis: Jino Prayudi Kartono | Editor: Budi Susilo
Pasokan yang terbatas, harga yang terjangkau, permintaan yang tinggi, membuat barang ini seperti laris manis, keluar dari pabrik langsung ludes diburu konsumen. Namun tidak bagi Sadikun (45), petani di Teritip, Balikpapan Timur.
Lokasi tempat tinggalnya yang jauh dari pusat perbelanjaan dan pemerintahan, gaya hidup Sadikun serasa tenang, dirinya secara mandiri bisa memenuhi energi gas.
Dia tidak perlu harus sibuk mencari ke sana kemari, atau sampai membela diri harus antre berburu gas subsidi ukuran tiga kilogram.
Kebutuhan bahan bakar gas Sadikun sudah terpenuhi secara mandiri, tidak perlu membeli di warung dengan harga yang selangit. Di bagian belakang rumah hunian Sadikun terdapat kandang kayu yang dihuni 11 ekor sapi ternak. Semuanya milik dia.
Pengembangan Biogas Kotoran Sapi Bernilai Ganda bagi Masyarakat
Sapi sudah berusia muda, dipelihara sejak lama, era tahun 1980. Melalui ternak sapi inilah, Sadikun mendapat berkah dari kotoran sapi yang bisa disulap menjadi Biogas.
Saat Tribunkaltim.co sambangi kediamannya, Jl Artomoro, RT 14 Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Kota Balikpapan, Senin (28/1/2019), Sadikun sedang bersantai, santap siang di rumahnya.
Dirinya bercerita banyak, termasuk satu di antaranya mengenai soal swasembada energi gas yang bersumber dari kotoran sapi ternaknya.
“Saya pakai Biogas. Kotoran sapi saya olah, saya tampung pada sebuah bak, lalu dibuat jadi biogas,” ujarnya.
Berkat pengolahan kotoran sapi menjadi Biogas, Sadikun bisa mendapatkan energi gas yang digunakan untuk memasak. Koleksi sapi yang berjumlah puluhan ekor, membuat Sadikun gratis bahan bakar gas.
“Sejak pakai Biogas, saya tidak pernah beli gas di warung. Mau masak sudah ada disini. Hasilnya sama-sama bagus, apinya biru. Saban hari saya gratis, tidak mengeluarkan uang untuk beli gas,” kata pria kelahiran Tuban, Jawa Timur ini.
Infrastruktur pembangunan Biogas saat itu Sadikun mendapat bantuan dari pemerintah, sekitar tahun 1989.
Dirinya bersama warga lainnya dibuatkan alat pembuat Biogas. Sampai sekarang, beberapa warga di Teritip ini mengandalkan Biogas.
“Pemerintah melihat disini warganya banyak yang ternak sapi, kenapa tidak sekalian saja dibuat biogas. Kami setuju saja, bagus. Tidak perlu lagi cari kayu bakar atau gas untuk buat masak,” ungkapnya.
Menurutnya, kotoran sapi sebanyak 10 ekor saja sudah sangat banyak untuk kebutuhan pembuatan Biogas.
Sebaliknya, kotoran sapi bisa tersisa buat yang lain seperti untuk pembuatan pupuk kompos, dipakai untuk tanaman di kebunnya, seperti di antaranya buat pupuk pohon pepaya, buah naga, dan kangkung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pltu-uap-di-kaltim.jpg)