Berita Nunukan Terkini
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Nunukan Minta Warga Kenali Penyakit ASF
Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nunukan meminta warga mengenali penyakit African Swine Fever (ASF).
TRIBUNKALTIM.CO,NUNUKAN - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nunukan meminta warga mengenali penyakit African Swine Fever (ASF).
Sebelumnya, terungkap uji sampel babi yang mati di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan belum lama ini, positif terkena penyakit ASF.
Belum lama ini, sebanyak 30 ekor babi di 3 desa wilayah Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), mati tanpa diketahui penyebab pastinya.
Ketiga desa tersebut yakni Desa Bungayan, Desa Wa Yagung, dan Desa Binuang.
Baca juga: Antisipasi ASF, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan KTT Rencana Uji Sampel Babi di Bvet Banjar Baru
Penyakit ASF yang disebabkan oleh virus Genus Asfivirus dan Family Asfarviridae itu, pertama kali masuk di Indonesia pada awal 2020.
Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Nunukan, Alim Bakhrie, mengatakan ASF merupakan penyakit babi yang sangat menular.
Bahkan, dapat menyebabkan kematian hingga 100 persen sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar.
Informasi yang dihimpun dari sosial media Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, tanda-tanda klinis penyakit ASF yakni mirip dengan penyakit babi lainnya seperti classical swine fever.
Baca juga: Virus ASF Ancam Peternak Babi, Dinas Pertanian Malinau Akan Batasi Mobilisasi Komoditas
"Nah, kalau babi yang mati di Krayan Timur waktu itu, gejala umum yang terjadi yakni demam, lemas, tidak nafsu makan, dan ada bengkak di bagian leher.
Ada juga yang melaporkan terdapat bercak lebam pada bagian perut babi," kata Alim Bakhrie kepada TribunKaltim.Co, Senin (21/06/2021), sore.
Lebih lanjut dia sampaikan, setelah pemeriksaan post mortem pada babi yang mati diperoleh hemmoragi pada tubuhnya.
Tak hanya itu, pada saat sebelum kematian keluar cairan dari hidung, hemorragi pada hepar, hemorragi pada jantung, hemmoragi pada usus, hemorragi pada ginjal, bengkak pada limpa dan limpa berwarna hitam, ginjal bengkak, limfoglandulla bengkak.
Bahkan, pada masa inkubasi berkisar 1-4 hari, lalu mati.
"Diagnosis yang akurat hanya dapat dibuat oleh laboratorium," ucapnya.
Menurutnya, penyakit ASF dapat menyebar melalui kontak langsung, serangga, pakaian, peralatan peternakan, kendaraan, dan pakan yang terkontaminasi.
"ASF itu tidak berbahaya pada manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. Tapi perlu waspada saja," ucapnya.
Baca juga: Dinas Peternakan Bulungan Pastikan Babi Mati di Peso Bukan Karena ASF
Alim meminta kepada warga untuk melaporkan kepada pihaknya, bilamana menemukan babi yang sakit atau mati.
Sementara itu, babi yang mati harus segera dikubur jauh dari permukiman warga. Sehingga penularan tidak meluas.
"Lalu, tidak menjual babi yang sakit atau karkas. Isolasi hewan sakit dan peralatan kandang. Pengosongan kandang selama 2 bulan.
Sebelumnya, kami sudah menyurati masyarakat lewat ppl, desa/ kelurahan kecamatan instansi vertikal yang menjaga perbatasan untuk kewaspadaan dini terkait virus ASF," ungkapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dinas-pertanian-dan-ketahanan-pangan-kabupaten.jpg)