Jumat, 17 April 2026

Berita Tarakan Terkini

Perketat Jalur Lalu Lintas, Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan Minta Warga Waspada ASF

Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan ikut mewaspadai meluasnya penularan virus African Swine Fever (ASF), yang ditemukan di Kaltara

Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH
Akhmad Alfaraby, Kepala Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan.Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan ikut mewaspadai meluasnya penularan virus African Swine Fever (ASF), yang ditemukan di salah satu wilayah di Kaltara. TRIBUNKALTIM.CO/ANDI PAUSIAH 

TRIBUNKALTIM.CO,TARAKAN - Balai Karantina Pertanian Klas II Tarakan ikut mewaspadai meluasnya penularan virus African Swine Fever (ASF), yang ditemukan di salah satu wilayah di Kaltara.

African Swine Fever (ASF) atau demam Babi Afrika merupakan virus yang tidak berbahaya bagi manusia, tetapi mematikan untuk babi.

Di Kalimantan Utara ditemukan kasus kematian babi yang disebabkan oleh ASF, untuk itu Balai Karantina Pertanian (BKP) melarang sementara peredaran daging babi dan produk turunannya.

Salah satunya yakni larangan sementara memasukkan dan mengeluarkan berbagai produk seperti sosis yang berbahan daging babi.

Baca juga: Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Nunukan Minta Warga Kenali Penyakit ASF

Ini dibeberkan Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Tarakan, Akhmad Alfaraby kepada awak media.

Ia membeberkan, langkah antisipasi ini diambil untuk meminimalisir potensi penularan virus ASF.

Selain itu, juga pihaknya makin memperketat produk lalu lintas keluar masuk

"Selama ini lalu lintasnya sangat kecil untuk ke Tarakan. Meski kecil tetap diwaspadai. Biasanya dari kami, antararea saja dan jumlah sedikit," urainya.

Ia menyebutkan, biasanya produk yang masuk berasal dari Surabaya, Balikpapan. Produk yang masuk sudah dalam bentuk daging ada juga produk sosis.

"Mereka yang hanya bawa tentengan. Tidak seberapa untuk konsumsi yang mau aja paling sekitar 0,5 kg. Untuk sementara itu kami larang dibawa," ungkapnya.

Lebih jauh menyoal peternakan babi di Kota Tarakan, untuk konsumsinya hanya mencakup orang-orang di Tarakan dan tidak ada yang dikirimkan keluar.

Untuk jumlahnya pihaknya tak bisa menyebutkan. Karena dalam hal ini tupoksi Balai Karantina Pertanian hanya mengawasi arus lalu lintas keluar masuk produk.

Baca juga: Antisipasi ASF, Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan KTT Rencana Uji Sampel Babi di Bvet Banjar Baru

Lebih lanjut dijelaskan ciri-ciri babi yang sudah terinfeksi di antaranya
demam tinggi, kemudian lesu, ada bintik di area sela paha. Selain itu tingkat kematiannya cepat dan sangat tinggi.

"Hanya hitungan hari penularannya bisa habis dalam satu kandang. Langsung cepat nyebar antar babinya. Makanya kalau ada penyakit itu, jangan dikeluarkan babinya dan yang mati langsung dimusnahkan dengan cara dibakar di liangnya lalu dikubur atau ditimbun," tegasnya.

Ini yang paling penting harus disampaikan kepada masyarakat khususnya bagi peternak babi

"Jangan sampai dibuang ke sungai. Yang paling aman dibakar dalam liang baru dikubur. Antisipasi penyakit tidak keluar karena sudah disterilkan di situ," ujarnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved