Virus Corona di Balikpapan
Dilema Belajar dari Rumah Para Pelajar Balikpapan, Lost Generation dan Lost Life
Dalam kesempatan talkshow virtual merayakan HAN, Kepala Disdikbud Balikpapan, Muhaimin, menyampaikan
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Dalam kesempatan talkshow virtual merayakan HAN, Kepala Disdikbud Balikpapan, Muhaimin, menyampaikan.
Adanya persoalan dilematis mengenai lost generation atau lost life dalam bidang pendidikan Indonesia selama pandemi Covid-19.
Beberapa kali pernah berdiskusi dengan KPAI dan psikolog, terkait dengan pilihan lost generation atau lost life.
Kalau memaksakan anak-anak belajar tatap muka, ini akan mengancam kesehatan dan keselamatan mereka.
Baca juga: Dalam Rangka Hari Anak Nasional, Bunda PAUD Kota Balikpapan Beri Hadiah Sepeda
Padahal tujuan negara adalah melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik.
"Jadi pilihan yang kita ambil beberapa waktu lalu adalah lost generation daripada lost life," ungkapnya.
Kendati demikian, ia mengatakan jika saat ini KPAI, psikolog, pemerhati pendidikan dan pemerintah telah berusaha mengkombinasikan strategi agar keduanya bisa dihindari.
"Salah satu caranya adalah seperti tema yang akan kita bicarakan saat ini, yaitu bagaimana agar anak dapat belajar secara nyaman di rumah," kata Muhaimin.
Baca juga: Lanud Dhomber Balikpapan Gelar Serbuan Vaksinasi Tahap Kedua, Tetap Terapkan 5 M
Menurutnya, Ki Hajar Dewantara sudah sejak lama menggaungkan mengenai konsep setiap orang menjadi guru dan setiap rumah menjadi sekolah.
Artinya, jauh sebelum menghadapi covid-19 dan melakukan pembelajaran secara daring, beliau sudah memiliki gambaran bahwa setiap kita akan menjadi guru.
"Terkait hal ini, diperlukan peran dari orangtua dan guru agar kita dapat menghadirkan suasana belajar yang nyaman dan berkualitas tanpa harus khawatir terjadi lost generation," jelasnya.
Ia melanjutkan, tidak ada lagi istilah orangtua menyerahkan pendidikan anak di sekolah kepada guru dan guru menyerahkan pendidikan di rumah kepada orangtua.
Baca juga: Salurkan Bansos kepada Warga Terdampak Covid-19, Polresta Balikpapan Gandeng Tokoh Masyarakat
"Kita harus mengingat konsep bahwa setiap anak adalah juara. Mindset ini yang harus kita tanamkan ke anak. Sehingga dalam sistem belajar seperti apapun, tugas guru dan orangtua adalah menggali potensi anak agar mereka tidak merasa terbebani dan jenuh dalam belajar," lanjutnya.
Selain itu, untuk TA 2021/2022 ia mengatakan jika Disdikbud juga akan berupaya untuk menyediakan proses belajar yang tidak menjemukan dan bisa menguatkan potensi edukasi yang ada pada peserta didik.
Caranya adalah dengan membuat mata pelajaran tidak terlalu banyak serta pembelajaran daring harus dilakukan saat itu juga.
"Karena tugas rumah yang diberikan bisa memicu permasalahan lain dan memberatkan orangtua yang harus menemani anak untuk mengerjakan PR," terangnya.
Baca juga: Covid-19 Renggut Nyawa Orangtua, Pendidikan Anak Yatim Piatu di Kaltim Perlu Diperhatikan
Muhaimin menjelaskan pelajaran sekolah tidak boleh dioper ke rumah.
Anak tidak harus diberikan tugas sesuai kurikulum yang ada. Namun dapat diberikan tugas sesuai kemampuan anak.
Parameter penilaiannya juga harus seimbang.
Saat ini kita akan lebih fokus pada kemampuan peserta didik.
Baca juga: Hari Anak Nasional 2021, Tantangan Orangtua di Masa Pandemi Ciptakan Lingkungan Bermain yang Aman
"Kami juga menyampaikan bahwa orangtua yang kesulitan menemani anak mengikuti kelas daring harus berkoordinasi dengan sekolah," katanya.
Setiap anak memiliki kemampuan dan karakteristik masing-masing, baik secara akademik maupun non akademik.
"Tugas kita adalah untuk menggali potensi tersebut," ujar Muhaimin. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/virtual-han-tribunkaltim.jpg)