Jumat, 24 April 2026

News Video

NEWS VIDEO Unik, Medali Olimpiade Tokyo 2020 Ternyata Terbuat dari Daur Ulang Ponsel dan Laptop

Olimpiade Tokyo 2020 menghadirkan banyak cerita menarik, di antaranya adalah proses pembuatan medali.

Editor: Wahyu Triono

TRIBUNKALTIM.CO - Olimpiade Tokyo 2020 menghadirkan banyak cerita menarik, di antaranya adalah proses pembuatan medali.

Diketahui, medali-medali yang dikalungkan kepada atlet merupakan daur ulang perangkat elektronik usang, seperti ponsel dan laptop.

Bagi masyarakat Jepang, proyek ini menawarkan kesempatan unik untuk menjadi bagian dari Olimpiade.

"Kampanye tersebut meminta masyarakat untuk menyumbangkan perangkat elektronik usang untuk proyek tersebut," kata Juru Bicara Olimpiade Tokyo 2020 Hitomi Kamizawa, dikutip dari kompas.com dari DW .

"Kami berterima kasih atas kerja sama semua orang," lanjut dia.

Baca juga: NEWS VIDEO Kandas di semifinal, Anthony Ginting Fokus Raih Perunggu Olimpiade Tokyo

Kumpulkan bahan daur ulang selama 2 tahun

Proyek ini memanfaatkan fakta bahwa logam mulia bernilai miliaran, seperti emas dan perak digunakan dalam perangkat elektronik.

Ada upaya nasional di Jepang selama dua tahun untuk mengumpulkan bahan daur ulang yang cukup untuk menghasilkan sekitar 5.000 medali perunggu, perak, dan emas Olimpiade.

Proyek itu menjangkau 90 persen kota, kota kecil, dan desa di Jepang, berkat adanya situs penjemputan donasi.

Kampanye daur ulang tersebut menghasilkan 70 pon (32 kilogram) emas, 7.700 pon (3.493 kilogram) perak, dan 4.850 pon (2.200 kilogram) perunggu.

Semuanya berasal dari hampir 80 ton perangkat elektronik kecil seperti ponsel dan laptop lama.

Meskipun upaya daur ulang ini sering tampak mudah, proyek medali harus melibatkan pemerintah pusat, ribuan kotamadya, perusahaan, sekolah, dan komunitas lokal lainnya.

Baca juga: Ahsan/Hendra Unggah Ucapan Perpisahan, Olimpiade Tokyo Jadi Olympic Terakhir The Daddies

Salah satu perusahaan utama yang terlibat adalah Renet Japan Group dengan filosofi bisnisnya yang berkisar pada keberlanjutan.

"Kami mengembangkan gerakan pengelolaan limbah untuk proyek medali dengan kerja sama dari banyak pemangku kepentingan, dari Pemerintah Jepang hingga masyarakat lokal," kata Direktur Renet Japan Group Toshio Kamakura.

Ketika proyek ini diluncurkan pada April 2017, hanya ada sekitar 600 kota yang terlibar.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved