Kamis, 23 April 2026

Virus Corona

Ini Kondisi Pasien Covid-19 yang Berisiko Alami Long Covid, Waspada saat Isolasi Mandiri

Kini para ilmuwan masih meneliti fenomena long Covid, meskipun kini sudah lebih banyak yang diketahui.

Penulis: Ikbal Nurkarim | Editor: Januar Alamijaya
HO/DINKES BERAU
LAWAN COVID - Tenaga kesehatan memberikan obat-obatan pada pasien isolasi mandiri di Kabupaten Berau. Ini kriteria orang bisa mengalami gejala Long Covid. 

Studi skala besar lainnya baru-baru ini menunjukkan bahwa gejala ini umum terjadi setelah Covid-19.

Kasus kelelahan bahkan terjadi pada lebih dari setengah kasus dan tampaknya tidak terkait dengan tingkat keparahan penyakit awal.

Terlebih lagi, tes menunjukkan bahwa orang yang diperiksa tidak mengalami peningkatan tingkat peradangan.

Itu menunjukkan bahwa kelelahan mereka tidak disebabkan oleh infeksi lanjutan atau sistem kekebalan mereka bekerja lembur.

Baca juga: NEWS VIDEO Manfaat Vitamin D bagi Pasien Covid-19 Saat Isolasi Mandiri

Faktor risiko untuk gejala jangka panjang dalam penelitian ini termasuk menjadi perempuan sesuai dengan studi Covid Symptom App.

Dan, yang menarik, ada diagnosis yang menyebut adanya kemungkinan hal ini berkaitan dengan kecemasan dan depresi, meski belum bisa dipastikan.

Selain itu, beberapa gejala long Covid juga tumpang tindih dengan gejala menopause, dan penggantian hormon dengan obat-obatan dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi dampak gejala.

Namun, uji klinis akan sangat penting untuk menentukan secara akurat apakah pendekatan ini aman dan efektif.

ilustrasi - pasien Covid-19 bergejala ringan menjalani isolasi mandiri di rumah. Berikut tanda-tana pasein yang tengah isoman mengalami perburukan kondisi kesehatan
ilustrasi - pasien Covid-19 bergejala ringan menjalani isolasi mandiri di rumah. (Freepik)

Kelelahan pasca-virus

Banyak penderita Long Covid yang dilaporkan mengalami kelelahan, nyeri otot, dan kesulitan berkonsentrasi.

Ada tumpang tindih dengan gejala sindrom kelelahan kronis sedang diselidiki.

CFS (chronic fatigue syndrome) atau sindrom kelelahan kronis sebelumnya telah dikaitkan dengan infeksi virus Epstein-Barr dan demam Q.

Studi terhadap orang yang terinfeksi Sars tahun 2003 lalu juga menunjukkan bahwa sekitar sepertiga dari mereka mengalami penurunan toleransi terhadap olahraga selama berbulan-bulan, meskipun paru-paru mereka tampak sehat.

Kerusakan organ yang berlangsung lama

Sesak napas, batuk, atau denyut nadi yang terus-menerus bisa menjadi gejala kerusakan permanen pada paru-paru atau jantung, meskipun ini tidak selalu permanen.

Sumber: TribunWow.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved