Mata Najwa
Curhat Seniman Mural di Mata Najwa soal Gambar Mirip Jokowi '404: Not Found' yang Dipolisikan
Pekerja seni mural buka suara di acara Mata Najwa menanggapi kasus gambar mirip Presiden Jokowi yang bertuliskan 404: Not Found, di daerah Batu Cepet
Penulis: Syaiful Syafar | Editor: Syaiful Syafar
"Justru seharusnya kita memperbanyak mural di banyak tempat karena dia memberikan keindahan sekaligus kita teredukasi dengan pesan-pesan mereka," kata Haris Azhar di acara Mata Najwa.
Sementara, Staf Khusus Mensesneg Faldo Maldini mengatakan, pemerintah sejauh ini tidak pernah melarang kritik.
Pemerintah, kata Faldo, juga selalu membuka ruang dialog bagi siapa saja.
Namun, dalam bernegara, kata Faldo, warga negara juga diikat dengan berbagai peraturan.
Misalnya di kepolisian ada KUHP, di Satpol PP ada penegakan Peraturan Daerah (Perda).
"Jakarta ada di Perda, Tangerang juga ada Perda. Nah itu bagaimana kalau ada peraturannya?" katanya.
Baca juga: Tema Mata Najwa HUT 76 RI: Bung, Ini Negeri Kita, Singgung Mural Jokowi Bagian Ekspresi Politik
Terkait kasus mural di Tangerang, politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini mengatakan, pemerintah saat ini justru mendorong untuk mengedepankan restorative justice.
"Jangan sampai ada hak-hak warga negara yang tercederai juga," kata Faldo Maldini.
Moeldoko Minta Kritik yang Beradab
Sebelumnya, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko juga merespons polemik adanya sebuah mural mirip Presiden Jokowi yang bertuliskan 404: Not Found di Batu Ceper, Tangerang.
Moeldoko menegaskan bahwa selama ini Jokowi tidak pernah pusing dengan adanya kritik yang diberikan kepadanya.
Bahkan Moeldoko juga menyebutkan Jokowi sangat terbuka dengan adanya kritik dari pihak manapun.
Moeldoko pun menyampaikan, Jokowi selama ini selalu mengatakan kepadanya, jika kita adalah orang timur yang memiliki adat. Sehingga jika ingin mengkritik sesuatu, maka lakukan dengan beradab.
Baca juga: REAKSI Istana Menyoal Mural Viral Mirip Jokowi 404 Not Found Moeldoko Sebut Presiden Orangtua Kita
Selain itu dalam melakukan kritik juga harus mengedepankan tata krama yang ada dalam budaya kita.
"Sebenarnya dari awal Presiden selalu mengatakan, dan ini lebih bersifat edukatif ya. Presiden sangat terbuka, enggak pernah pusing dengan kritik."