Wawancara Eksklusif
EKSKLUSIF - Buka Pencalegan Dini, Ketua PKS Balikpapan Sonhaji: Kesempatan jadi Kader
Ketua PKS Balikpapan, Sonhaji membeber sejumlah strategi dalam mengejar target dari DPP.
Kalau di internal itu berpotensi meraih suara untuk menambah kursi di dewan, ya internal kita akan dorong. Kalau eksternal juga berpotensi untuk menambah suaranya PKS dengan realita mereka punya kapasitas untuk itu, ya kita akan ajukan yang eksternal.
Intinya adalah tetap menambah kursi untuk ukuran Pileg 2024, karena kita kepingin memberikan kontribusi lebih.
Kalau suara PKS lebih banyak, semisal kalau untuk di Balikpapan tadi 20% atau 9 kursi, minimal kan PKS bisa mengajukan calon sendiri. Kenapa kemarin kita sempat tidak mengajukan calon sendiri, karena kursi yang tersedia pun kurang. Begitu.
Ada syarat khusus untuk menjadi caleg PKS?
Syarat ya seperti yang dibuka oleh KPU, yaitu minimal ijazah SMA, sehat jasmani maupun rohani, dan seterusnya.
Tetapi, lebih daripada itu mereka memiliki semangat untuk berjuang dengan PKS. Jadi, di samping memiliki elektabilitas, dia juga mau bekerja. Baik itu internal maupun eksternal.
Seperti apa pengukurannya?
Pengukurannya sederhana sebenarnya di PKS sedang melakukan pembukaan untuk anggota baru, bagaimana kemudian para calon anggota dewan nantinya yang melalui seleksi PKS, kita berikan kesempatan.
Ada waktu yang cukup panjang sebelum masuk di 2024, kita akan atur waktunya bagaimana kemudian dia bekerja di masyarakat untuk membuktikan ada yang dikontribusikan, berapa kartu anggota PKS yang akan mereka setorkan ke pihak PKS.
Apakah di PKS berlaku sistem mahar untuk caleg?
Sebenarnya bukan mahar ya, maksudnya kan melihat bahwa politik ini butuh biaya. Seorang caleg itu minimalnya itu harus bisa pasang poster, atau stiker lah minimal. Kemudian, di partai sendiri harus bayar saksi, ya kan semua itu butuh biaya.
Sementara saksi ini sendiri, di seluruh Balikpapan waktu Pileg taun 2019 lalu itu total ada 2055 TPS (1 TPS, 1 saksi). Walaupun saksi ini ada yang sifatnya sukarela, tapi di 2019 kemarin mereka bekerja dari pagi ke pagi.
Mereka meninggalkan keluarga, yang bekerja izin meninggalkan pekerjaannya, kemudian mereka butuh konsumsi.
Jadi, memang ada pembiayaan-pembiayaan yang lain juga seperti atribut dan lainnya. Mereka memang dituntut untuk mengeluarkan biaya-biaya dalam pencalegan. (Niken Dwi Sitoningrum/Bagian 1)