Berita Berau Terkini
Perum Bulog Berau Berencana Beli Jagung Petani
Meskipun sering diketahui komoditi jagung di Kabupaten Berau melimpah, pihak perum Bulog Berau belum bisa menyerap jagung dari hasil petani Berau
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO,TANJUNG REDEB - Meskipun sering diketahui komoditi jagung di Kabupaten Berau melimpah, pihak perum Bulog Berau belum bisa menyerap jagung dari hasil petani Berau.
Kepala Perum Bulog Berau, Apriansyah mengatakan bahwa pihaknya memang berwacana untuk menyerap komoditi jagung.
Bahkan di tahun lalu, mereka telah menyiapkan modal untuk pembelian jagung sebanyak 300 ton untuk estimasi 2 bulan.
Walaupun, yang terealiasi dari modal tersebut hanya modal awal sebanyak 100 ton.
“Memang ada wacana, di cabang Bulog lain memang ada penyerapan untuk khusus komoditas jagung,” ujarnya, Rabu (20/10/2021).
Baca juga: PNS Berau Harus Mengikuti Aturan Cuti Terbaru
Baca juga: Sutomo Jabir Temui Warga Gunung Tabur, Sosialisasikan Perda Bantuan Hukum di Berau
Baca juga: Prakiraan Cuaca Rabu 20 Oktober 2021, Kabupaten Berau Diprediksi Cerah Hingga Sore
Menurut Apri, penyerapan jagung sebenarnya akan bermanfaat pada asosiasi peternak ayam petelur, yang masih saja mengeluhkan pakan ayam yang cenderung mahal, sebab mendatangkan dari pulau lain.
Asosiasi tersebut di Kabupaten Berau membutuhkan paling minim 135 ton dalam satu bulan. Karena peran bulog selama ini sebagai penstabil harga.
Sementara itu, sulitnya penyerapan jagung besar pada harga petani yang tidak cocok dengan ketentuan harga bulog.
Karena mereka memiliki harga acuan pembelian yang terbagi berdasarkan kadar air yang ditentukan.
Kadar air 15 persen yang berada di jagung dapat dibeli dengan harga tinggi yaitu Rp 3.150 sedangkan kadar air hingga 35 persen dihargai Rp 2.500
Kemudian sasaran Bulog yaitu pada petani yang berada di Talisayan dan Biatan, dua tempat itu berpotensi rerata dengan realisasi panen, 36,411 ton untuk Talisayan dan Biatan sebanyak 10,950 ton.
Namun petani tidak bisa dengan harga yang dipatok oleh bulog, sebab mereka meminta harga sebesar Rp 4-4,5 ribu.
Pihak bulog tidak bisa mengeluarkan modal dengan harga seperti itu, jika tidak sesuai dengan kualitas jagungnya.
“Tapi kalau memang ada yang membeli sesuai dengan harga mereka, kami kesimpulannya menganggap bahwa petani memang sudah sejahtera, dan itu artinya bagus. Karena peran kami memang penstabil harga, jika tidak bisa dengan harga seperti yang ditawarkan, kami tidak apa-apa,” jelasnya.
Baca juga: Dinas Kesehatan Berau Ingatkan untuk Waspada Gelombang III Covid-19
Bukan hanya dari pihak bulog saja yang keberatan dengan harga yang dipatok para petani, namun dengan asosiasi peternak ayam petelur juga tidak bisa mengeluarkan modal yang besar untuk harga tersebut.
“Kalau sewaktu-waktu akan terserap jagung pun kami sudah siap dengan adanya gudang pakan, pembangunannya memang kami siapkan untuk penambahan penduduk Kabupaten Berau dan komoditi lainnya,” tutupnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/kepala-perum-bulog-berau-apriansyah-09.jpg)