Berita Berau Terkini
Perum Bulog Berau Sarankan Toko Tani Indonesia Harus Punya Pasar Dulu
Perum Bulog Berau bersiap diri untuk memasok beberapa komoditas pangan di toko tani indonesia nantinya.
Penulis: Renata Andini Pengesti |
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - Perum Bulog Berau bersiap diri untuk memasok beberapa komoditas pangan di toko tani indonesia nantinya.
Kepala Perum Bulog Berau, Apriansyah menjelaskan hal tersebut telah menjadi komitmen pihaknya untuk mendukung terciptanya toko tani Indonesia pertama di Berau, meskipun belum ada tanda pasti kapan toko tersebut terbentuk.
“Karena memang ada peluang melihat hasil pertanian di Kabupaten Berau tidak hanya beras saja, melainkan jagung, pala bahkan kopi,” jelasnya kepada Tribunkaltim.co, Kamis (28/10/2021).
Kendati menurutnya,toko tani indonesia harus memiliki pasar terlebih dahulu.
Pihaknya mengusulkan seperti pemanfaatan ASN di Kabupaten Berau. Lantaran pihaknya juga menghindari adanya kerugian, terutama kepada pihak petani.
Baca juga: Perum Bulog Berau Berencana Beli Jagung Petani
Baca juga: Bulog Berau Serap Beras Hasil Petani Lokal, Diharapkan Memenuhi Kebutuhan Warga Hingga 65 Persen
Baca juga: Cadangan Beras di Bulog Berau Capai 55 Ton, Dipastikan Aman Hingga 3 Bulan Kedepan
Apalagi, lanjut Apriansyah, Perum Bulog saat ini sedang kesulitan untuk menyerap beras petani lokal.
Salah satu penyebab kesulitan tersebut lantaran belum ada pasar yang menjanjikan.
Ia mengakui, beras lokal tidak memiliki ketahanan produk yang lama. Hanya bisa bertahan paling lama, yakni 2 bulan lamanya.
Sedangkan beras yang diambil dari luar Berau, bisa mencapai 6 bulan ketahanan.
Jika produk beras lokal tidak memiliki pasar yang pasti, tentu akan menghambat penjualan. Serta ketersediaan beras lokal tidak melulu selalu ada, melihat masa tanam di Berau hanya dua kali dalam setahun.
“Kalau dari kami, berharap nanti teknisnya ditentukan pasarnya kepada siapa. Memang beras lokal berau ini, dari hasilnya tidak begitu tahan lama. Tetapi bukan berarti kualitasnya jelek ya,” bebernya.
Sementara itu, beras lokal pun saat ini digunakan untuk bantuan pangan non tunai, atau kartu sembako kepada masyarakat yang masuk ke dalam masyarakat penerima manfaat.
Apri juga mengakui, bantuan tersebut tidak tersalurkan selama sebulan sekali, mengikuti aturan pemerintahan yakni tiga bulan sekali.
Hal itu juga menjadi penyebab yang menyulitkan bulog menyerap hasil pertanian Berau.
Baca juga: Penuhi Kebutuhan dan Jaga Stabilitas Harga, Perum Bulog Berau Datangkan 200 Ton Gula Pasir
“Untuk saat ini, persiapan komoditas yang akan kami salurkan ke toko tani masih berupa beras. Kalau bukan dari lokal Berau, bisa berupa minyak goreng, gula, terigu. Karena kan penghasilnya tidak ada,” ujarnya.
Tapi tidak menutup kemungkinan, bulog bisa menyalurkan komoditas jagung ke toko tani indonesia, walaupun hal ini menjadi wacana lama.
“Kalau untuk masalah harga, kami tugasnya untuk jadi penstabil harga, tidak mungkin menjual dengan harga yang tinggi,” ucapnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/salah-satu-beras-lokal-milik-petani-berau-yang-dipasarkan.jpg)