Minggu, 19 April 2026

Kesehatan

Frekuensi Penyakit Diabetes pada Anak-anak Meningkat, IDAI Berikan Solusinya

Jelang peringatan Hari Diabetes Sedunia yang diselenggarakan setiap 14 November, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI.

Editor: Budi Susilo
Hello Sehat
Ilustrasi diabetes. Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menyoroti ketersediaan insulin yang tidak merata di Indonesia. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Jelang peringatan Hari Diabetes Sedunia yang diselenggarakan setiap 14 November, Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI menyoroti ketersediaan insulin yang tidak merata di Indonesia.

Padahal, frekuensi penyakit diabetes meningkat di seluruh dunia termasuk pada anak-anak.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI Dr Muhammad Faizi, SpA(K) mengungkapkan, berbeda dengan rumah sakit atau fasilitas kesehatan dengan tipe teratas A dan B, insulin mudah didapatkan oleh pasien.

Sementara untuk faskes dan RS dengan tipe C dan D, layanan insulin sangat minim didapat, apalagi daerah di luar Pulau Jawa.

Baca juga: Hari Diabetes Sedunia 2021: Inilah 5 Cara Mencegah Terjadinya Diabet

Baca juga: Apa itu Hari Diabetes Sedunia? Diperingati Tiap 14 November, Sejarah, Tema, dan Makna Logo

Baca juga: OBATI Sebelum Parah! Kenali 9 Gejala Diabetes Tipe 2, Jangan Sepelekan Kesemutan dan Sering Lapar

Tetapi kalau kelas 3 itu kita susah. Karena memang dianggap bahwa rumah sakit tipe C atau D tIdak kompeten untuk melakukan terapi sehingga kkses insulin ini tidak bisa semua tipe.

"Beda tipe, beda pelayanan. Karena paket JKN itu berbeda," ujar Faizi dalam media briefing virtual mengenai Update Penanganan Diabetes pada Anak beserta Teknologi, pada Sabtu (13/11/2021).

Padahal, pasca-pemberian insulin pasien Diabetes Melitus 1 (DM1) perlu terus dimonitor untuk melihat kadar gula atau kontrol Metabolik.

"Sampai kapan? Seumur hidup (harus dikontrol)," ujar Faizi.

Baca juga: Makanan yang Harus Dihindari Penderita Penyakit Ginjal dan Diabetes, Salah Satunya Daging Olahan

Tak meratanya akses insulin di Tanah Air juga diamini oleh Anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pediatric and Adolescent Diabetics (ISPAD) Prof Dr dr Aman Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon.)

Ia mengatakan, akses insulin baru dirasakan di kota-kota besar yang mayoritas berada di Pulau Jawa.

Sementara, untuk daerah yang belum pernah ada kasus anak-anak dengan diabetes maka layanan insulin sangatlah terbatas.

"Kita kerja di rumah sakit tipe atas semuanya bisa (akses insulin). Akses insulin ini tidak merata Indonesia, padahal pasien ada dimana-mana ada di puncak gunung. Itu yang harus saya bilang," ujarnya Prof Aman.

Baca juga: NEWS VIDEO Anak Muda Ternyata Bisa Terserang Diabetes, Ini Tanda-tandanya

Anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pediatric and Adolescent Diabetics (ISPAD) Prof Dr dr Aman Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon.)

Dikutip dari data IDAI menyatakan angka kejadian DM pada anak usia 0 sampai 18 tahun mengalami peningkatan sebesar 700 persen selama jangka waktu 10 tahun.

Jumlah kasus baru DM tipe-1 dan tipe-2 berbeda antar populasi dengan distribusi usia dan etnik yang bervariasi.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved