Minggu, 12 April 2026

Berita Kukar Terkini

Strategi Petani Desa Bhuana Jaya Kukar Antisipasi Pengerukan Batu Bara

Dalam rangka menjaga hutan dan daerah agar tetap terkelola dengan baik, warga desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang

Penulis: Aris Joni | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI
Petani di Desa Bhuana Jaya Kukar sedang menanam padi di sawah. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Dalam rangka menjaga hutan dan daerah agar tetap terkelola dengan baik, warga desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), membentuk kelompok tani hutan yang bernama Kelompok Tani Tuah Himba.

Kelompok tani yang diketuai Casuari (54) tersebut memiliki anggota sebanyak 25 orang dan mulai aktif sejak 2018 lalu.

Tak hanya itu, kelompok tani Tuah Himba bersama 23 kelompok tani lainnya bersama-sama mengelola wilayah baik dari segi pertanian persawahan, perkebunan hingga mengelola hutan.

Dari para kelompok tani tersebut telah melakukan penanaman berbagai varian tanaman, seperti padi sawah, sayuran, tanaman holtikultura khusus tanaman pangan dan bawang.

Baca juga: Seorang Pemotor Tewas Tabrak Lari di Jalan Hauling Batu Bara Bontang Lestari, Polisi Buru Pelaku

Baca juga: Diduga Selewengkan Izin, Tambang Batu Bara di Balikpapan Dipastikan Salahi Perda Rencana Tata Ruang

Baca juga: Akses Jalan Poros Bontang-Samarinda Lumpuh Akibat Banjir, 1 Truk Angkutan Batu Bara Terbalik

"Untuk anggota saya di Tuah Himba ini menerima bantuan tanaman aren atau tanaman hutan, bantuan diterima dari Dinas Kehutanan Provinsi Kaltim," ungkap Casuari, Ketua Kelompok Tani Tuah Himba pada Minggu (26/12/2021).

Diakuinya, tahun 2018 lalu pihaknya juga sempat menanam bawang merah yang di resmikan langsung Bupati Kukar, Edi Damansyah.

"Tujuan kami untuk mengembangkan tanaman pertanian dan hutan ini tujuannya agar wilayah kami ini tidak sempat habis, untuk keruk batu bara," katanya.

Bahkan, ia berkaca dari desa tetangga yang desanya hampir habis dikeruk batu bara dan saat ini warganya kekurangan lahan untuk bertani dan dirinyabtak ingun Desa Bhuana Jaya bernasib sama dengan desa tetangganya tersebut.

"Istilahnya desa kami jangan kena seperti itu, anak, cucu kami mau pindah kemana. Sedangkan kami trans dari tahun 1981 itu kan, karena kami di Jawa sana ndak punya apa-apa," katanya.

"Jadi pindah kesini dengan mengelola lahan dua hektare yang diberi pemerintah. Jadi untuk sekarang lahan tani kami di acak-acak batu bara bagaimana nasib anak cucu kami," jelas Casuari.

Lanjut dia, untuk mengantisipasi hal tersebut, pihaknya bersama pemerintah desa mengajukan pengelolaan hutan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Serta mengajukan berbagai program pertanian ke Bupati Kukar Edi Damansyah yang juga merupakan Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan(KTNA) Kukar.

"Jadi kami masyarakat dan pihak desa, kami mengajukan supaya bisa di tanggulangi itu. Terus kami yang gabung KTNA Desa," katanya.

"Dan karena ketua KTNA sekarang juga Bupati Kami, jadi kami sering mengusulkan kepada bupati dan kepala dinas supaya lahan kami ini aman," terangnya.

Casuari mengibaratkan, untuk apa memiliki banyak uang dengan menggadaikan lahan atau daerah bermiliar-miliar yang akhirnya akan habis juga, namun dengan lahan yang ia miliki bisa digunakan untuk bertani untuk tujuh turunan.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved