Balikpapan Kota Aman dan Nyaman, tapi Tidak untuk LGBT
Sejumlah gelaran kompetisi di Kota Balikpapan menjadi kontroversial lantaran dituduh memiliki unsur LGBT.
Penulis: Miftah Aulia Anggraini | Editor: Adhinata Kusuma
Sekelompok komunitas tari, kala itu tengah menyelenggarakan acara untuk memperingati hari jadinya di sebuah mal besar di kawasan Balikpapan Selatan.
Awalnya mulus, namun acara itu ternyata menuai protes.
Salah satu panitia penyelenggara Rei (bukan nama sebenarnya) sontak kaget mendengar dering telepon tanda panggilan masuk di gawai miliknya, pagi itu.
Ternyata pesan tersebut dari kepolisian, ia pun dipanggil menuju kantor polisi di Jalan Jenderal Sudirman untuk dimintai keterangan.
"Kok ada acara seperti itu? Kenapa ada yang berpakaian tidak senonoh, laki-laki berpakaian seperti perempuan, kalian LGBT?," ujar Shu (teman dari Rei) yang mencoba mengingat dan menirukan pertanyaan yang dilontarkan pihak kepolisian kala itu.
Shu (23) yang juga merupakan anggota dari salah satu komunitas tari mencoba menceritakan peristiwa yang masih melekat di dalam ingatannya.
Masalah utama yang dikisruhkan, menyoal pakaian.
Rok mini, hotpan, dan croptee yang dikenakan sekelompok penari laki-laki untuk menirukan idol-nya, dianggap menyalahi kodrat.
Padahal menurut Shu, itu tuntutan profesional panggung. Tidak ada kaitannya dengan LGBT seperti apa yang disebutkan.
"Alasannya masyarakat resah dan khawatir ada kelompok LGBT itu bisa ditiru anak-anak. Tapi kami hanya menari tidak melakukan hal lain, masa orang menari langsung dibilang LGBT," ucapnya.
Usai kejadian itu, Shu dan kawan-kawan sempat mendapat perundungan. Bahkan ia dilempari batu di jalanan wilayah Telindung, Balikpapan.
Ketika itu, ia sedang berkendara dengan roda dua, tak disangka ada orang lain yang mengenalnya dan kejadian pereksekusi itu terjadi.
Shu juga ternyata kerap mendapat cemohan di media sosialnya.
"Saya merasa tidak aman dan nyaman untuk berekspresi lagi di Balikpapan, kota kelahiran saya. Tidak takut untuk menari lagi, tapi rasanya terbatas dan ada yang hilang, cukup traumatis. Untuk sekarang, kita nurutin kemauan warga saja, membatasi diri," terangnya.
Balikpapan Belum Siap
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ilustrasi-lgbt-loh.jpg)