Kamis, 28 Mei 2026

Balikpapan Kota Aman dan Nyaman, tapi Tidak untuk LGBT

Sejumlah gelaran kompetisi di Kota Balikpapan menjadi kontroversial lantaran dituduh memiliki unsur LGBT.

Tayang:
Freepik.com
Ilustrasi simbol LGBT 

Apa yang dirasakan Reva dan kejadian yang menimpa Shu ternyata merupakan buntut dari adanya laporan warga. Sejumlah masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Muslim Bersatu sepakat menolak secara terang-terangan.

Sepekan sebelum kompetisi itu digelar, mereka mengaku telah mendapatkan informasi kegiatan tersebut. Penolakan itu pun mulai diumbar melalui media sosial Facebook.

Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) ulama Balikpapan, Abdul Rais mengatakan pihaknya menjadi yang terdepan dalam pembubaran tersebut.

Dengan nada keras, dirinya mengutuk kegiatan yang dituduhkan mengandung unsur LGBT di Kota Beriman.

Menurutnya, LGBT menjadi barang haram. Rais menyebut, LGBT tidak wajar, menyalahi adab pergaulan, dan merusak moral pendidikan.

"Adanya pertunjukan kompetisi tarian itu mendidik anak muda supaya bergaya lemah gemulai, harusnya laki-laki perkasa dan tegas, bukan seperti perempuan. Perwali antiLGBT salah satu agenda kita untuk di Balikpapan dengan moto Kota Beriman, perilaku LGBT tidak layak untuk pandangan hidup," katanya saat dikonfirmasi awal Januari lalu.

Laki-laki yang berprofesi sebagai pengacara itu mengatakan, kegiatan dengan unsur LGBT tidak bisa berlindung atas nama Hak Asasi Manusia (HAM).

Ia menilai, kegiatan LGBT mengganggu hak orang lain dan bukan merupakan suatu kebebasan. Rais beranggapan itu konotasi pemikiran kerdil.

Apalagi di Kota Balikpapan yang dijuluki sebagai Kota Madhinatul Iman.

Dengan legitimasi tersebut, Rais semakin getol menyuarakan Balikpapan yang berslogan Beriman (Bersih, Indah, Aman, dan Nyaman) tidak harus maju dengan pergaulan LGBT.

“(Dengan acara seperti itu) Balikpapan justru akan mendapat citra sebagai kota maksiat,” katanya tegas.

"Kita menentang pergaulan yang merusak suatu bangsa dan meluas ke daerah. Tapi, LGBT tetap boleh hidup dan bekerja, GNPF tidak melarang orang berkomunitas tetapi kelakuan adabnya yang dilarang," terangnya.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Kota Balikpapan, Zulkifli mengatakan, motto Kota Beriman bukan hanya slogan, melainkan jati diri masyarakat Balikpapan. Sehingga setiap perilaku warganya, diminta untuk mencermikan hal yang sama.

Namun begitu, Zulkifli tak menampik, golongan LGBT juga bagian dari masyarakat. Ia pun tak mempermasalahkan kehadiran LGBT sebagai kaum minoritas.

Hanya saja sebagai perwakilan pemerintah, Zulkifli mengaku harus menegakkan aturan pornoaksi dan pornografi.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved