Berita Kukar Terkini

Usai Berbuat Asusila, Petinggi Ponpes di Tenggarong Bawa Korban Nikah Siri Tanpa Seizin Ortunya

Kasus dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh petinggi pondok pesantren di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berlanjut di ranah

Penulis: Aris Joni | Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI
Kepala UPT PPA DP3A Kukar, Faridah. Ia mengaku sudah satu bulan ini pihaknya melakukan pendampingan terhadap korban, baik pendampingan psikologis maupun pendampingan hukum. TRIBUNKALTIM.CO/ARIS JONI 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Kasus dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh petinggi pondok pesantren di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus berlanjut di ranah hukum.

Di mana, Satreskim Polres Kukar telah menerima laporan dari keluarga korban dan pihak keluarga korban mendapat pendampingan dari UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar.

Saat ditemui di kantornya, Kepala DP3A Kukar, Aji Lina Rodiah melalui Kepala UPT PPA DP3A Kukar, Faridah mengungkapkan sudah satu bulan ini pihaknya melakukan pendampingan terhadap korban, baik pendampingan psikologis maupun pendampingan hukum.

"Awal pendampingan itu sekitar Januari lalu sejak masuknya pengaduan ke kami," ungkapnya.

Bahkan, melalui pendampingan tersebut terkuak fakta-fakta baru berdasarkan pengakuan korban.

Baca juga: DP3A Kukar Dampingi Korban Dugaan Asusila Oknum Pimpinan Ponpes di Tenggarong

Baca juga: Seorang Pemuka Agama di Tenggarong Diduga Berbuat Asusila pada Anak Didiknya, Orangtua Lapor Polisi

Di mana salah satunya oknum petinggi ponpes tersebut telah melakukan dan membawa korban nikah siri di daerah Loa Janan sekitar setahun yang lalu.

"Nikah siri itu juga tanpa sepengetahuan orangtua korban dan itu sangat kita sayangkan," ujarnya, Rabu (9/2/2022).

Dia menambahkan, sebelum dilakukan nikah siri, korban saat itu nurut saja dibawa oleh oknum petinggi ponpes tersebut ke Loa Janan dan ternyata si korban dibawa untuk melakukan nikah siri bersama oknum tersebut.

"Korban juga nggak tahu kalau dia dibawa untuk nikah siri, namanya juga anak-anak kan, dia juga nggak paham mau dibawa ke nikah siri itu," tuturnya.

Diakuinya, pihaknya sudah tiga kali melakukan pendampingan psikologis terhadap korban, setelah itu barulah keluarga korban memantapkan diri untuk melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum.

"Dan kita juga dampingi kasus hukumnya," ucapnya.

Ia menegaskan, korban masih di bawah umur karena masih di bawah usia 18 tahun atau masih kelas 2 madrasah.

Baca juga: NEWS VIDEO Kasus Dugaan Asusila Habib Yusuf Alkaf Modus Minta Dipijat, 2 Korban Alami Trauma Berat

Sementara, kondisi korban saat ini sudah mulai membaik, namun dengan kondisi tengah hamil sebelum waktunya dan mengalami trauma atas kejadian itu, kondisi korban masih belum pulih sepenuhnya.

"Intinya kita terus lakukan pendampingan baik psikologis maupun hukumnya," ucap Faridah. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved