Berita Balikpapan Terkini

Kasus Pelecehan Seksual, Proses Belajar Mengajar Tetap Digelar Rumah Tahfidz di Balikpapan

RM disangka telah melakukan aksi pelecehan seksual dan persetubuhan terhadap dua santriwatinya di Balikpapan. Korbannya berusia 11 dan 15 tahun.

(SHUTTERSTOCK)
Ilustrasi pencabulan- RM disangka telah melakukan aksi pelecehan seksual dan persetubuhan terhadap dua santriwatinya di Balikpapan. Korbannya berusia 11 dan 15 tahun. 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Pihak Kemenag Balikpapan memastikan bahwa Rumah Tahfidz Qur'an yang dikelola oleh tersangka RM (59) tak terdata.

Untuk diingat, RM disangka telah melakukan aksi pelecehan seksual dan persetubuhan terhadap dua santriwatinya di Balikpapan. Korbannya berusia 11 dan 15 tahun.

Ditelusuri, Rumah Tahfidz Qur'an yang dimaksud, berlokasi di kawasan Kelurahan Gunung Samarinda, Balikpapan Utara.Yakni sebuah rumah berukuran sekira 10x12 meter persegi dengan kelir hijau tosca.

Diduga, di rumah itu pula, dua korban mengalami pelecehan dan rudapaksa terhitung sejak dua minggu pertama menimba ilmu.

Pengasuh Yayasan, Nurma saat ditemui awak media mengaku tidak paham betul kasus yang menimpa sosok RM yang diketahui kerap disapa habib itu.

Baca juga: Dugaan Pencabulan Pimpinan Ponpes di Tenggarong, Besok Polres Kukar Lakukan Gelar Perkara

Baca juga: Dijatuhi Hukuman 4 Tahun Kasus Pencabulan, Oknum Polisi Berpangkat AKBP di Jambi Akan Penjara

Baca juga: Kenalan Lewat Media Sosial, Seorang Gadis Remaja di Tangsel Jadi Korban Pencabulan

"Selama ini, saya sudah dua tahun di sini sejak 2020 habib tidak pernah menginap di yayasan. Dia hanya datang mengantar uang belanja, sebatas mengajar," sebut wanita yang biasa dipanggil Umi tersebut.

Dan juga, kata Nurma, tersangka RM saat mengajar pun di luar dan tidak pernah masuk ke dalam kamar.

Ditanya soal pelaporan tersebut terhadap RM, dirinya menyayangkan.

Pasalnya, kedua korban sudah lama tidak berada di yayasan.

"Seandainya ada pelecehan seksual kenapa tidak pada saat itu dilaporkan kalau memang ada," cetusnya.

"Tapi saya gak bisa juga berkata banyak karena memang saya gak pernah melihat," lanjut Nurma.

Ia menjelaskan, seingatnya, korban tinggal di rumah yayasan dan korban berusia 15 tahun sudah pergi sejak Januari 2021 sedangkan korban usia 11 tahun pada Juli 2021.

Baca juga: KPAI Ikut Kawal Proses Hukum Kasus Pencabulan Oknum Dosen di Balikpapan

Namun kendati tersangka RM telah ditahan, kata Nurma, proses belajar mengajar tetap berlangsung. Meski dengan keuangan yang dipastikan tersendat.

Pasalnya, Rumah Tahfidz itu tidak memungut bayaran atas penerimaan santri dan hanya mengandalkan uang dari upah dakwah tersangka RM, donasi masyarakat seikhlasnya, dan pemasukan lain yang tidak membebani santri.

"Kan yang mengaji di sini bukan hanya yang menginap di sini saja, anak-anak warga di sini juga banyak yang mengaji," tandasnya. (*)

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved