Berita Kukar Terkini

Usaha Sarang Burung Walet Warga Jadi 'Pembunuh' Industri Sawit di Desa Muara Siran Kukar

Usaha sarang burung walet yang berada di Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara sebenarnya sudah ada sejak 2010 silam.

Penulis: Rita Lavenia | Editor: Rahmad Taufiq
TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA
Hamparan luas lahan gambut yang jadi tempat mendirikan sarang burung walet di Danau Muara Siran. TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA 

TRIBUNKALTIM.CO, MUARA SIRAN - Usaha sarang burung walet yang berada di Muara Siran, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara sebenarnya sudah ada sejak 2010 silam.

Namun, Ketua Lembaga Pengelola Sumber Daya Alam (LPSDA) Muara Siran, Abdul Agus Nur Ainur mengenang, pada tahun itu hanya ada satu warga yang mengerjakan sarang burung walet.

"Bahkan, memasuki 2012 pun jumlah pengusahanya baru ada dua orang," kenang penguasa burung walet yang akrab disapa Agus ini.

Hingga akhirnya memasuki 2015, dari dorongan Yayasan Biosfer Manusia (Bioma) dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), usaha itupun booming dengan harga komoditas mencapai Rp 8 juta per kilogramnya pada masa itu.

Sekadar diketahui, di desa ini sarang burung walet terbuat dari kayu kanoi yang diperoleh dari hutan gambut sekitar.

Baca juga: Menengok Desa Muara Siran Kukar, Minim Infrastruktur, tapi Warganya Makmur karena Usaha Sarang Walet

Baca juga: 800 Sarang Walet di PPU Miliki IMB, Namun Hanya 30 Masuk Daftar Wajib Pajak

Agus menuturkan, saat itu rata-rata mereka mengeluarkan modal sebesar Rp 97 juta.

Dia menjelaskan, dalam jangka waktu panen, mereka bisa mendapatkan 6 kilogram sarang burung walet, dengan rata-rata pendapatan Rp 27 juta per bulan.

"Saat ini per lembar (sarang walet) bisa dihargai Rp 100 ribu. Itupun tergantung kualitas," tuturnya.

"Tapi biasanya, semakin dekat sarang (walet) dengan hutan rimbun, semakin bagus kualitasnya," bebernya.

Menyadari adanya potensi lebih besar dari menjaga hutan sekitar, Agus dan beberapa warga pun bergerak cepat mengamankan hutan mereka.

"Apalagi sejak 2012, pemerintah menggencarkan program Satu Juta Hektar Kelapa Sawit. Kami tidak mau," ujarnya.

Akhirnya, dalam waktu 4 tahun, ia menghimpun warga untuk mendorong rencana tata ruang desa dengan bimbingan beberapa organisasi nirlaba.

Baca juga: Kebakaran di Kota Bangun Kukar, 3 Rumah dan 2 Bangunan Sarang Walet Hangus Terbakar

"Akhirnya cita-cita kami tercapai. Bupati Kukar, Rita Widyasari mengeluarkan peraturan Bupati (Perbup) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Desa," jelasnya.

Dirincikannya, dari 42.913 hektare, terdapat 14 zona tata ruang desa yang meliputi:

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved