Berita Berau Terkini
Tenun Ikat Milik Mentari Sanggam Masih Digarap Secara Tradisional, Ini Upaya Pemkab Berau
Salah satu pengrajin Tenun Ikat di Kecamatan Sambaliung masih terus memproduksi dengan alat tradisional
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB- Berau juga memiliki Tenun, yang terus digaungkan.
Salah satu pengrajin Tenun Ikat di Kecamatan Sambaliung masih terus memproduksi dengan alat tradisional.
Pemilik Tenun Mentari Sanggam, Ibu Aminah (50) merupakan salah satu pengrajin tenun yang saat ini masih aktif memproduksi secara mandiri, dan beberapa kali telah bekerja sama baik dengan Pemkab Berau maupun Dekranasda Berau.
Awalnya, Aminah membentuk kelompok pengrajin Tenun di Kampung Sukan pada tahun 2007.
Namun, kini Ia bekerja secara mandiri bersama sang anak di Sambaliung dengan masih menggunakan alat tradisional bernama Gedongan.
“Sekarang untuk menenun masih bersama dengan anak dan beberapa teman yang masih membantu di dekat daerah kecamatan,” jelasnya kepada TribunaKaltim.Co, Selasa (1/3/2022).
Baca juga: Tenun Berau Harus Dikenalkan Lebih Masif, Berharap Homestay hingga Tempat Wisata Bisa Beri Ruang
Baca juga: Para Rider Honda Ikut Belajar Menenun di Kampung Tenun Samarinda
Baca juga: Anggota DPRD Samarinda Harap Sarung Tenun tak Dipindah dari Samarinda Seberang Namun Dipercantik
Aminah sendiri, merupakan kelahiran darah Maumere, sebab itu, tidak begitu sulit baginya untuk bisa membuat tenun, khususnya tenun ikat.
Walaupun, selama hidup di Maumere, Ia tak pernah menenun sendiri, hanya mengamati keluarganya sekitar.
Meskipun tidak memproduksi banyak, Ia hanya mampu menghasilkan satu kain tenun.
Penyebab itu, lantaran selama produksi tidak menggunakan alat modern.
Padahal saat ini, beberapa kelompok tenun di Kabupaten Berau, menurut Aminah sudah banyak yang mendapatkan bantuan, alat tenun bukan mesin atau ATBM baik dari Pemkab Berau.
Dalam satu hari, Ia mampu mengerjakan sekiranya 5 hingga 6 jam tenun, dan tidak dapat selesai membentuk kain selebar 1 meter.
Awalnya, Ia harus memproses dari tahapan menyeleksi benang katun satu persatu. Dan membentuk motifnya dengan memisah helaian benang.
Apalagi, ciri khas Tenun Berau yakni motif tidak boleh putus dalam satu kain. Hal tersebut membutuhkan ketelitian yang serba ekstra. Jika benang terlilit, Ia akan sibuk untuk menyortir satu demi per satu.
Untuk motif Berau sendiri, dijelaskannya minimal harus memiliki warna kuning di dalam tenun itu. Adapun motif khas seperti penyu, daun rutun maupun daun kangkung. Begitu juga motif ukiran khas dayak.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/pengerajin-tenun-ikat-aminah-50-bersama-anaknya.jpg)