Berita Berau Terkini
Tidak Ada Kejelasan soal Lahan SMAN 9 Berau di Maratua
SMAN 9 Berau, yang berada di Maratua telah berdiri sejak tahun 2010 dan hingga kini, belum ada status lahan pasti
Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB - SMAN 9 Berau, yang berada di Maratua telah berdiri sejak tahun 2010 dan hingga kini, belum ada status lahan pasti.
Dijelaskan salah satu pengajar SMAN 9 Berau, Werdianto, mewakili kepala sekolah SMAN 9 Berau, merasa sedikit kecewa dalam pemaparancamat maupun kepala kampung.
Lantaran tidak ada yang mengusulkan untuk status lahan SMAN 9 Berau, dalam kegiatan Musrenbang di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
Saat ini, status SMAN 9 Berau berstatus numpang, yang dibangun di samping SMP, bahkan diakuinya lahan dimana SMA berdiri sudah masuk dalam kawasan lahan bandara Maratua.
Baca juga: PLN Berau Bantah Warga Maratua Harus Beli Kompor Induksi Dulu agar Diterangi Listrik 24 Jam
Baca juga: Perketat Prokes, Kecamatan Maratua Kabupaten Berau Berlakukan Sistem Satu Pintu, Keputusan Muspika
Baca juga: Jalan Sepanjang 38 Km di Maratua Berau Selesai, Tersisa Beberapa Kilometer Penunjang Lokasi Wisata
Kata dia, tidak ada yang mengusulkan ataupun mengejar kepastian lahan sekolah.
"Memang wewenangan di Provinsi untuk membangun, tapi tetap ini sekolah kami di Maratua,” bebernya kepada TribunKaltim.co, Selasa (8/3/2022).
Apalagi saat ini pihaknya menampung sebanyak 120 siswa. Namun, kapasitas aslinya sejatinya hanya bisa menampung sebanyak 90 siswa.
Itupun 3 bangunan yang mereka miliki adalah hasil dari gotong royong pihak guru.
Baca juga: Maratua Wisata Ikonik di Kabupaten Berau, Jadi Opsi G20 Khusus Diving
Mereka membangun 3 bangunan dengan ukuran 7X18 meter dengan menggunakan anggaran Bosnas maupun Bosprov sebesar Ro 17 juta.
“Kami membangun bersama dengan pihak guru lainnya, mohon maaf tapi memang perhatiannya sangat kurang sekali,” tegasnya.
Padahal, dijelaskan Werdi, di Maratua sendiri sudah banyak anak yang putus sekolah, lantaran tidak memiliki anggaran lebih untuk sekolah di Kota.
“Mayoritas di sini kan pekerjaan prangtuanya nelayan, jadi memang banyak yang putus sekolah,” tutupnya.
Baca juga: Sebelum Bersih-bersih Pantai, Isran Noor Berpesan Agar Warga Pulau Maratua Tiru Kebiasaan Orang Bali
Sementara itu, Asisten II Kab Berau, Agus Wahyudi menjelaskan Pemkab Berau saat itu sudah memiliki anggaran untuk hibah lahan dan penentuan lahan.
Tetapi diakui Agus, pihak Provinsi lah yang tidak berani untuk melelang dan membebaskan lahan.
“Betul, provinsi punya kewajiban, mereka juga harus hitung-hitungan karena ini kan aset mereka nantinya," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/sman-9-berau.jpg)