Minggu, 3 Mei 2026

Berita Internasional Terkini

Update Perang Rusia vs Ukraina: Pertempuran Makin Sengit, Dukungan ke Vladimir Putin Meningkat

Sejumlah kejadian terjadi pada perang hari ini da tak ada tanda-tanda perang akan segera berakhir. Bahkan, perang semakin sengit dan memanas

Tayang:
history
Vladimir Putin, Presiden Rusia. Update Perang Rusia vs Ukraina: Pertempuran Makin Sengit, Dukungan ke Vladimir Putin Meningkat. 

TRIBUNKALTIM.CO - Perang Rusia vs Ukraina memasuki hari ke-37, Jumat (1/4/2022) hari ini.

Sejumlah kejadian terjadi pada perang hari ini da tak ada tanda-tanda perang akan segera berakhir.

Bahkan, perang semakin sengit dan memanas.

Dimana, Ukraina melakukan serangan balik ke Rusia.

Hal ini membuat perang dengan jangka waktu yang panjang bisa saja terjadi.

Sejak perang dimulai pada 24 Februari lalu, berbagai kejadian dan kebijakan terjadi, misalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin yang mengancam Eropa untuk membayar gas dengan Rubel mulai 1 April ini atau pasokan gas dari Moskwa bakal dihentikan.

Baca juga: NEWS VIDEO Ratusan Tentara Rusia Dikabarkan Membelot ke Ukraina untuk Melawan Vladimir Putin

Baca juga: Ukraina Serang Balik Rusia, Gudang Senjata Pasukan Putin Hancur Lebur Diterjang Rudal Balistik

Baca juga: NEWS VIDEO Putin Sarankan Pasukan Ukraina Menyerah Jika Ingin Penembakan di Mariupol Dihentikan

Ada juga kabar mengenai Vladimir Putin yang disesatkan penasihatnya sendiri yang terlalu takut ungkapkan buruknya perang di Ukraina.

Berikut ini sejumlah kejadian yang terjadi pada hari ke-37 perang Rusia vs Ukraina, dilansir dari Kompas.com:

Biden: Putin mungkin terisolasi

Dilansir dari AFP, Presiden AS Joe Biden pada Kamis, mengatakan bahwa Vladimir Putin mungkin "terisolasi" dan dapat menempatkan beberapa penasihatnya di bawah "tahanan rumah".

Dalam pidato publik pertamanya tentang penilaian Barat tentang ketegangan di internal Kremlin atas perang di Ukraina, Biden juga mengatakan dia "skeptis" tentang klaim Moskwa untuk mengurangi serangan gencarnya di beberapa bagian negara itu.

NATO: Pasukan Rusia persiapkan serangan ke Donbass

NATO tidak melihat mundurnya pasukan Rusia di Ukraina dan memprediksi adanya tindakan ofensif tambahan, kepala aliansi Jens Stoltenberg memperingatkan.

Baca juga: Tak Jadi Gabung NATO, Zelensky Sebut Ukraina akan Jadi Negara Netral, Setujui Permintaan Rusia

"Unit-unit Rusia tidak mundur tetapi memposisikan ulang. Rusia sedang mencoba untuk berkumpul kembali, memasok, dan memperkuat serangannya di wilayah Donbas di Ukraina timur,” katanya.

Menurut dia, Rusia masih akan mempertahankan tekanan pada Kyiv dan kota-kota lain di Ukraina.

Putin ancam Eropa terkait pasokan gas

Putin mengatakan negara-negara "tidak ramah", termasuk semua anggota Uni Eropa, harus membuat rekening rubel untuk membayar pengiriman gas mulai April atau kontrak yang ada akan dihentikan.

Kanselir Jerman Olaf Scholz menegaskan pembayaran berlanjut dalam euro atau dolar, sementara Perancis mengatakan Paris dan Berlin sedang mempersiapkan pemotongan pengiriman gas Rusia.

Bus dalam perjalanan ke Mariupol

Pemerintah Ukraina mengirim 45 bus untuk mengevakuasi warga sipil dari kota Mariupol yang terkepung, di mana Rusia telah mengumumkan gencatan senjata lokal menyusul protes global atas penderitaan warga sipil yang terperangkap oleh penembakan tanpa henti selama sebulan.

Baca juga: Kremlin Bantah Roman Abramovich Diracun, Peran Bos Chelsea dalam Negosiasi Rusia-Ukraina di Turki

Konvoi pertama tiba di pelabuhan Berdyansk yang diduduki Rusia, pusat operasi untuk mengevakuasi warga sipil ke kota Zaporizhzhia yang dikuasai Ukraina.

AS: kemungkinan konflik akan berlangsung lebih lama

Pemusatan kembali upaya militer Rusia di Donbass dapat memicu "konflik yang lebih lama dan berkepanjangan ketika pasukan Ukraina melakukan perlawanan sengit di sana, menurut seorang pejabat senior pertahanan AS.

"Ini telah diperebutkan sekarang selama delapan tahun," kata pejabat itu tentang wilayah yang sangat diperebutkan itu.

Dukungan ke Putin naik

Peringkat Putin telah mendapat dorongan sejak dimulainya aksi militer di Ukraina, kata lembaga jajak pendapat independen Rusia Levada Center, dengan lebih dari 80 persen orang Rusia mengatakan mereka mendukung tindakannya.

Jajak pendapat pertama yang dilakukan pusat itu sejak konflik dimulai menunjukkan 83 persen orang Rusia mendukung pemimpin mereka, naik dari 71 persen pada awal Februari.

Baca juga: TERKUAK ALASAN Republik Ceko, Belgia hingga Irlandia Usir Utusan Rusia, Buntut Invasi ke Ukraina?

Kebakaran Besar di Wilayah Rusia

Kebakaran besar terjadi di fasilitas penyimpanan minyak di Kota Belgorod, Rusia barat, pada Jumat (1/4/2022) pagi waktu setempat.

Kebakaran ini terjadi hanya dua hari setelah wilayah Rusia yang sama, yang berbatasan dengan Ukraina diguncang oleh serangkaian ledakan di gudang amunisi.

Insiden itu terjadi di ibu kota administratif wilayah Belgorod, yang terletak sekitar 35 km di timur laut perbatasan Ukraina.

Diberitakan Russia Today (RT), foto dan video kobaran api mulai beredar di dunia maya sekitar pukul 06.00 pagi waktu setempat.

Menurut Kepala Daerah Belgorod, Vyacheslav Gladkov, menyebut dua karyawan di fasilitas depot minyak itu terluka, tetapi luka mereka tidak mengancam jiwa.

“Layanan darurat ada di tempat kejadian. Kami akan mengetahui penyebab kejadiannya nanti,” kata Gladkov dalam sebuah pernyataan di Telegram.

Dia mengumumkan bahwa penduduk dari tiga jalan terdekat sedang dievakuasi ketika petugas pemadam kebakaran sedang berjuang untuk memadamkan api.

Gladkov kemudian mengeklaim bahwa terminal penyimpanan minyak itu dihantam oleh dua helikopter militer Ukraina yang telah memasuki wilayah Rusia saat terbang di ketinggian rendah.

Baca juga: Babak Baru Perang Rusia vs Ukraina, Vladimir Putin & Volodymyr Zelensky Bakal Saling Berhadapan

Detail pasti dari insiden itu belum diklarifikasi.

Awal pekan ini diketahui sebuah gudang amunisi di desa terdekat Krasny Oktyabr diguncang oleh beberapa ledakan, yang tidak menimbulkan korban sipil, tetapi dilaporkan melukai empat prajurit Rusia.

Sementara beberapa media Ukraina menegklaim gudang itu dihantam oleh rudal, pihak berwenang Rusia menepis tuduhan itu.

Rusia menyalahkan insiden yang terjadi pada Selasa (29/3/2022) malam waktu setempat, pada kemungkinan human error.

Namun, penyebab pasti ledakan masih belum diketahui.

Rentetan insiden di wilayah perbatasan barat itu terjadi saat Rusia melanjutkan operasi militernya di Ukraina.

Moskwa mengirim pasukan ke Ukraina pada akhir Februari.

Rusia menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS.

Kyiv menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan telah membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali dua republik Donbass dengan paksa. (*)

Berita Internasional Terkini

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved