Berita Internasional Terkini
Sikap Indonesia Terhadap Perang Rusia vs Ukraina, Tegas Beri Peringatan kepada PBB: Hati-hati!
Wakil Indonesia pada sidang darurat majelis Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), menjadi sorotan setelah berani memberi peringatan kepada PBB
TRIBUNKALTIM.CO - Wakil Indonesia pada sidang darurat majelis Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), menjadi sorotan setelah berani memberi peringatan kepada PBB terkait dengan perang Rusia vs Ukraina.
Wakil Tetap RI untuk PBB, Arrmanatha Christiawan Nasir, menyampaikan seruan agar PBB berhati-hati sebelum mencabut hak anggota.
Hal itu diungkapkannya pada sidang darurat majelis umum PBB, Kamis (7/4/2022).
Sidang itu membahas penangguhan keanggotaan Rusia pada Dewan HAM PBB.
“Majelis umum PBB perlu bersikap hati-hati dan tidak mencabut hak sah anggotanya sebelum mempunyai seluruh fakta yang ada,” tutur Arrmanatha dikutip dari keterangan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Sabtu (9/4/2022), dilansir dari Kompas.com.
Dalam voting penangguhan keanggotaan Rusua itu, Indonesia memilih sikap abstain bersama 57 negara lain.
Baca juga: Rusia Bongkar Taktik Provokasi Ukraina, Manfaatkan Jenazah Tentara Jadi Bukti Pembantaian di Bucha
Baca juga: PENGAKUAN Mencengangkan Istri Tentara Ukraina yang Dilecehkan Prajurit Rusia, Digilir Karena Hal Ini
Baca juga: ISIS Manfaatkan Perang Rusia vs Ukraina, Lakukan Serangan Beruntun ke Pusat Kota di Wilayah Israel
Beberapa alasan disampaikan Arrmanatha, salah satunya adalah memberi ruang lebih dulu untuk Independent International Commision of Inquiry bekerja mengumpulkan berbagai fakta terkait konflik Rusia dan Ukraina.
“Perlu diberi kesempatan untuk bekerja secara obyektif dan transparan serta melaporkan hasil temuannya,” sebutnya.
Sebelum semua fakta terkumpul, lanjut Atmanatha, PBB lebih baik tidak bersikap gegabah.
“Majelis umum PBB tidak boleh menciptakan preseden negatif yang dapat menjatuhkan kredibilitasnya sebagai badan yang terhormat,” ucap dia.
Di sisi lain, Indonesia menyampaikan sikapnya dengan tegas dalam menanggapi perkara ini.
Pertama, siapapun yang bertanggung jawab dalam pelanggaran HAM di Ukraina mesti diadili.
Kedua, meminta semua pihak mengedepankan dialog untuk mencapai kesepakatan damai.
“Ini adalah cara satu-satunya yang dapat menghentikan penderitaan dan bertambahnya korban jiwa di Ukraina. Sekaligus untuk mencegah semakin parahnya dampak perang ini dalam skala yang lebih luas,” imbuh Arrmanatha.
Diketahui konflik Rusia-Ukraina tak hanya berdampak pada kedua negara.
