Berita Nasional Terkini
Munculnya Partai Mahasiswa Indonesia, Sosiolog dari UNS Nilai Mengaburkan Publik
Munculnya Partai Mahasiswa Indonesia, ditanggapi oleh seorang sosiolog dari kampus UNS.
TRIBUNKALTIM.CO - Munculnya Partai Mahasiswa Indonesia, ditanggapi oleh seorang sosiolog dari kampus UNS.
Sang ilmuwan menilai, lahirnya Partai Mahasiswa Indonesia itu mengaburkan publik. Kenapa bisa demikian? Inilah penjelasannya.
Sosiolog Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Rezza Akbar mengomentari terkait pro kontra Partai Mahasiswa Indonesia.
Rezza mengatakan, munculnya partai tersebut merupakan motif untuk mengaburkan publik terkait kekuatan mahasiswa dalam mengkritisi pemerintah.
Baca juga: TERUNGKAP Ternyata Partai Mahasiswa Indonesia Awalnya Partai Kristen Indonesia 1945
Baca juga: Lahirnya Partai Mahasiswa Indonesia Tuai Polemik, Eks Aktivis 98 Setuju, BEM Nusantara Menyesal
Baca juga: PAN dan PPP Diprediksi jadi Partai Politik yang Terdegradasi di Pemilu 2024
“Motif utama yang saya lihat dari keberadaan Partai Mahasiswa Indonesia ini adalah untuk mengaburkan publik."
"Setidaknya menimbulkan kesadaran bahwa kekuatan-kekuatan atau elemen-elemen kritis dari pemerintah tidaklah solid, khususnya mahasiswa,” jelasnya dalam acara Panggung Demokrasi bertajuk “Kontroversi Partai Mahasiswa” pada Rabu (27/4/2022).
Soal perlu tidaknya Partai Mahasiswa Indonesia, Rezza menjelaskan mengenai posisi mahasiswa di tengah masyarakat saat ini.
Menurutnya, posisi mahasiswa di masyarakat sedang mengalami permasalahan.
“Kita harus melihat dulu mahasiswa itu apa. Mahasiswa adalah gerakan moral, gerakan sosial, dan gerakan intelektual yang hadir dan eksis untuk mengusung perubahan.”
Baca juga: Telah Lahir Partai Baru Bernama Partai Mahasiswa Indonesia, Sudah Lolos Kemenkumham
“Khususnya ketika dalam kondisi atau keadaan dimana masyarakat itu sedang tidak baik-baik saja,” kata Rezza.
Sehingga, Rezza mengatakan, posisi mahasiswa tersebut menjadikan adanya dilema setelah kemunculan Partai Mahasiswa Indonesia.
Ia juga mengatakan, adanya Partai Mahasiswa Indonesia membuat mahasiswa tidak ada bedanya dengan politisi yang bernaung dalam partai politik (parpol).
Padahal, imbuhnya, politisi dan partai politik adalah subjek dari kritik yang menjadikan adanya gerakan mahasiswa.
“Persoalannya kemudian, partai politik adalah mekanisme struktural secara formal untuk terlibat dalam kontestasi politik dalam suatu negara demokrasi dalam periode tertentu untuk berkontestasi merebut kekuasaan.”
Baca juga: Beda dengan PDIP, PSI Puji Pilihan Tanah & Air yang Dibawa Anies Baswedan ke IKN
“Sehingga ada satu dilema atau paradoks yagn bisa muncul di sini, bagaimana konsekuensi dan upaya memperjuangkan aspek-aspek moral tadi itu yang umumnya nir kepentingan, umumnya tidak tedensius ketika kemudian pola geraknya mereka nyaris tidak ada bedanya dengan politisi yang justru dikritisi,” bebernya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/aliansi-mahasiswa-paser-yang-melaksanakan-aksi-pencerdasan.jpg)