Ekonomi dan Bisnis

Pakistan jadi Pasar Potensial Ekspor CPO Indonesia

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus mengalami nilai perdagangan yang positif. Pada tahun 2021, nilai perdagangan tercatat sebesar 3,6 miliar

Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/ZAINUL MARSYAFI
ILUSTRASI Armada truk angkutan TBS dan CPO melintasi jalan umum di tiga kampung yang ada di Kutai Barat. Sekarang ini, produk CPO atau Crude Palm Oil Indonesia dilirik oleh negara Pakistan, sekarang masuk pasar ekspor. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Dalam lima tahun terakhir, Indonesia terus mengalami nilai perdagangan yang positif. Pada tahun 2021, nilai perdagangan tercatat sebesar 3,6 miliar dolar AS.

Sementara itu, penanaman modal dari investor Pakistan di Indonesia dari tahun 2018 hingga 2022 telah menggelontorkan total dana sebesar 5,45 juta dolar AS untuk 155 proyek.

Sektor-sektor yang merealisasikan investasinya tersebut, antara lain industri makanan, tekstil, kayu, serta kimia dan farmasi.

Sekarang ini, produk CPO atau Crude Palm Oil Indonesia dilirik oleh negara Pakistan, sekarang masuk pasar ekspor.  

Baca juga: Olah CPO 10 Ribu Ton Perhari, Kementerian Perindustrian Tetapkan KRN Jadi Objek Vital Nasional

Baca juga: Ekspor CPO Dibuka Lagi, Harga Minyak Goreng di Balikpapan Masih Mahal

Baca juga: Larangan Ekspor CPO Dicabut, Petani Sawit di Paser Beri Apresiasi Presiden hingga Kepala Daerah

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, mengatakan pemerintah membuka ekspor minyak goreng kembali setelah melihat kondisi pasokan yang terpenuhi di pasar domestik dan penurunan harga minyak goreng curah saat ini.

"Pakistan bisa menjadi pasar yang potensial," ujarnya dalam pertemuannya dengan Menteri Industri dan Produksi Pakistan Syed Murtaza Mahmud, Senin (13/6/2022).

Pemerintah menjalankan program percepatan distribusi CPO, refined bleached deodorized palm oil (RBDPO) dan used cooking oil (UCO) melalui ekspor sejak tanggal 7 Juni-31 Juli 2022, untuk mengoptimalisasi dan stabilisasi produksi dan rantai perdagangan CPO, RBDPO dan UCO.

Program tersebut berlaku bagi seluruh eksportir, dengan alokasi ekspor ditetapkan sebesar 1 juta ton dan setiap eksportir yang mengikuti program diberikan alokasi paling sedikit 10 ton kelipatannya.

"Saya yakin terbitnya regulasi terkait ini dapat mempercepat impor CPO dan turunannya ke Pakistan," ungkap Agus.

Pertemuan bilateral dengan Pakistan juga dapat memperluas hubungan kerja sama kedua negara di bidang ekonomi, yaitu dengan kelanjutan perundingan Indonesia-Pakistan Trade in Goods Agreement (IP-TIGA).

Baca juga: Akhirnya Jokowi Buka Lagi Keran Ekspor CPO dan Minyak Goreng, Harga Bakal Naik?

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved