Berita Internasional Terkini

China & Taiwan Diambang Perang, Dampaknya Bisa Lebih Parah Dibanding Rusia vs Ukraina

China dan Taiwan diambang perang, seperti yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina

FOTO AFP / Patrick LIN PATRICK LIN / AFP
Sebuah Bendera Taiwan dan Bendera China (kanan). Para pengunjuk rasa Taiwan bersikeras bahwa Taiwan adalah negara merdeka dan bukan bagian dari China. Kini kedua negara diambang perang terbuka seperti yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina. 

TRIBUNKALTIM.CO - China dan Taiwan diambang perang, seperti yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina.

Bahkan, sejumlah pihak menilai perang antara China dengan Taiwan bakal lebih besar dampaknya dibandingkan dengan Rusia vs Ukraina.

Lantas, apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya perang antara China dengan Taiwan, benarkah hal ini imbas dari perang yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina?

Salah satu dampak terjadinya perang yakni berkaitan dengan perekonomian, pasalnya hal ini tak hanya berimbas kepada dua negara yang bertikai, namun dapat berdampak secara global.

Seperti yang terjadi pada perang Rusia-Ukraina sejak Februari lalu, memicu kenaikan harga komoditas dan larangan ekspor pangan, yang menyebabkan kekhawatiran bencana kelaparan di negara-negara miskin.

Kepala Negosiator Perdagangan Taiwan John Deng mengatakan pada Selasa (14/06/2022) bahwa serangan China ke Taiwan akan berpotensi menimbulkan gangguan perdagangan yang lebih buruk.

Baca juga: Rusia Hancurkan Jembatan Tersisa, Pasukan Azov Ukraina Terjebak di Sievierodonetsk

Baca juga: Rusia Dibantu Boneka Besi Putin Serang Wilayah Ukraina, Sosoknya Dijuluki Monster oleh Amerika

Baca juga: Severodonetsk Pusat Manufaktur Dibombardir, Presiden Ukraina Beber Banyak Korban Berjatuhan

Dia mengingat ketergantungan dunia pada Taiwan, khususnya untuk chip semikonduktor yang digunakan pada kendaraan listrik dan ponsel.

"Gangguan terhadap rantai pasokan internasional, gangguan pada tatanan ekonomi internasional, dan kesempatan untuk tumbuh akan jauh, jauh lebih signifikan, daripada yang ini (perang Rusia-Ukraina)," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara di sela-sela pertemuan tingkat menteri Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) di Jenewa, Swiss, dilansir dari Kompas.com.

"Akan ada kekurangan pasokan di seluruh dunia," tambahnya sebagaimana dilansir dari DW pada Rabu (15/4/2022).

Pemerintah Taiwan belum melaporkan tanda-tanda akan adanya serangan dari China, tetapi mereka telah meningkatkan tingkat kewaspadaannya terhadap niat Beijing, sejak serangan Rusia ke Ukraina dimulai.

Pemerintah China mengatakan ingin "reunifikasi damai", tetapi mencadangkan opsi lain untuk Taiwan, yang dianggapnya sebagai provinsi China, yang secara demokratis memiliki pemerintahan sendiri.

Baca juga: Kibarkan Bendera Ukraina di Puncak Everest, Pendaki Rusia Protes Keputusan Putin

Taiwan mendominasi pasar global untuk produksi chip paling canggih dan ekspornya bernilai 118 miliar dollar AS (Rp1.742 triliun) pada 2021.

Dengan mengatakan dia berharap dapat mengurangi 40 persen bagian dari ekspor Taiwan ke China.

Sam Yeh / AFP
Kendaraan militer Taiwan mengikuti parade hari nasional di depan Istana Kepresidenan di Taipei pada 10 Oktober 2021.

WTO, sejauh ini merupakan salah satu dari sedikit organisasi multilateral di mana China dan Taiwan bekerja berdampingan sejak Beijing memblokir partisipasinya pada negara lain.

Bagi WTO, Invasi Rusia ke Ukraina merupakan tragedi yang pertama dalam sejarah pengawas badan perdagangan global itu, di mana satu anggotanya telah menginvasi anggota yang lain.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved