Berita Nasional Terkini

Ketua IPW di Karni Ilyas Club: 2 Cara Mengecek Adanya Dugaan Pelecehan Seksual Brigadir J pada PC

Sugeng Teguh Santoso di Karni Ilyas Club sebut 2 cara SCI dalam mengecek terjadinya dugaan pelecehan seksual oleh Brigadir J pada Putri Candrawathi

Penulis: Justina | Editor: Justina
YouTube Karni Ilyas Club
Ketua IPW Sugeng Teguh Santoso saat hadir di acar Karni Ilyas Club membahas tentang kasus Brigadir J. 

TRIBUNKALTIM.CO - Ketua Indonesia Police Watch (IPW) Sugeng Teguh Santoso saat tampil di acara Karni Ilyas Club sebut dua cara scientific crime investigation dalam mengecek apakah memang terjadi dugaan pelecehan seksual kepada Putri Candrawathi oleh Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J.

Disampaiakan Sugeng Teguh kepada Karni Ilyas bahwa hal pertama yang bisa dilakukan dalam hal ini adalah dengan asesmen psikologi yang bisa dilakukan oleh psikolog atau psikiater dengan menggunakan visum et repertum psikiatrikum.

"Di sini akan membuat suatu laporan asesmen kondisi tramumatik yang terjadi dan sebabnya, itu akan ada, itu karena keahlian dari psikolog forensik," kata Sugeng Teguh dikutip dari kanal YouTube Karni Ilyas Club, Kamis (11/8/2022).

Baca juga: Susno Duadji di Karni Ilyas Club Akui dapat Tambahan Tunjangan dari Anak karena Gaji Pensiun Sedikit

Hal kedua menurut Sugeng Teguh adalah pengujian soal keberadaan DNA terduga pelaku dalam hal ini Brigadir J pada ruangan atau di kamar Putri Candrawathi.

Dan ini menurutnya, ini penting untuk didalami terkait pengungkapan fakta adanya dugaan kasus pelecehan tersebut.

"Kalau misalnya dihasil pemeriksaan belum ada visum et repertum psikiatrum atau sudah ada, itu yang harus didalami. Itu dari tanggapan saya," ujar Sugeng Teguh.

"Jadi masyarakat melihat kejanggalan - kejanggalan itu dari sisi bahwa rasionalitas masyarakat sebetulnya bisa diabaikan," sambung Sugeng Teguh.

Baca juga: Susno Duadji Jadi Petani Jagung karena Gaji Pensiun Sedikit, Karni Ilyas: Memang Patut Disantuni

Pada kesempatan tersebut, disebutkan Sugeng Teguh jika kejanggalan-kejanggalan dari kasus Brigadir J pada umumnya juga menyerang rasionalitas masyarakat dalam mencari keadilan untuk korban.

Dimulai dari tembak menembak antara Brigadir J dan Bharada E di kediamana Irjen Ferdy Sambo, pelecehan seksual dan pengancaman.

Soal penetapan tersangka dan pelanggaran kode etik pada beberapa petinggi Polri lainnya, Sugeng Teguh menyebutkan kalau yang menarik bagi IPW dalam kasus ini adalah 'tenggelamnya' Ferdy Sambo dan 'menarik 31 atau menyeret beberapa nama dalam kepolisian.

"Ini di luar nalar saya, walaupun saya yang pertama kali mengeluarkan isu obstraction of justice , menghalangi suatu proses penegakan hukum. Saya tidak menyangka bahwa hasil kerja Irsus itu menarik 31 orang, ini yang dahsyat," beber Sugeng Teguh.

"31 satu orang ini bukan orang sembarangan, bintang satu, kemudian perwira menengah, perwira pertama yang adalah orang-orang yang ahli dalam penegakan hukum pidana, mereka tahu kode etik, mereka tahu sumpah," lanjut Sugeng Teguh.

Simak video selengkapnya:

(TribunKaltim.co/Justina)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved