Opini

Perlukah Subsidi BBM Disesuaikan?

Artikel yang ditulis oleh Ismail, S.IP, M.Si ,peneliti Nusantara Strategic House, yang membahas terkait dengan fenomena BBM bersubsidi di Indonesia.

HO/Pribadi
Ismail, S.IP, M.Si (Peneliti Nusantara Strategic House) 

Oleh: Ismail, S.IP, M.Si

Peneliti Nusantara Strategic House

 

Perlukah Subsidi BBM Disesuaikan?

Beberapa bulan terakhir ini kita sering menemukan antrian kendaraan roda dua dan roda empat yang hendak mengisi bahan bakar di SPBU, hal tersebut menjadi pemandangan yang sangat lumrah dan mudah ditemukan di wilayah kabupaten dan kota, tidak terkecuali di Samarinda, Kalimantan Timur.

Bahan bakar jenis petralite dan solar yang disubsidi pemerintah menjadi barang yang sulit ditemukan terkecuali di jam-jam tertentu.

Hal itulah yang menyebabkan masyarkat rela memburu bahan bakar yang disubsidi pemerintah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, bahkan disuatu kesempatan Presiden Jokowi menyampaikan curahatan bahwa kebijakan Pemerintah untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) semakin berat karena jumlah subsidi yang digelontorkan bukan besar, tetapi besar sekali.

Bahkan, bisa dipakai untuk bangun Ibu Kota Negara (IKN) lantaran subsidi itu sudah mencapai Rp 502 triliun, jika melihat hampir seluruh negara mengalami permasalahan ketidakstabilan, baik itu ekonomi maupun kebutuhan pokok, mengingat pemulihan kembali pasca Covid 19 membutuhkan proses untuk meningkatkan kestabilan di suatu negara.

Menurut pengamat ekonomi energi Dr Fahmy Radhi, MBA, subsidi yang dilakukan pemerintah dikarenakan minyak dunia mencapi $105 per barrel, sedangkan asumsi ICP (Indonesia Crude Oil) APBN ditetapkan sebesar US $63 per barrel.

Halaman
123
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved