Berita Kaltara Terkini

Proyek PLTA Kayan yang Suplai Listrik ke IKN Nusantara Disorot, Walhi: Dokumen Amdal Sulit Diakses

Proyek PLTA Kayan yang suplai listrik ke IKN Nusantara Kalimantan Timur ( Kaltim ) disorot. Walhi sebut dokumennya hingga saat ini sulit diakses

TribunKaltim.co/HO
Lokasi groundbreaking PLTA Kayan oleh PT KHE di Desa Muara Pengean, Kecamatan Peso, foto diambil pada Januari 2022 lalu. Proyek PLTA Kayan yang suplai listrik ke IKN Nusantara Kalimantan Timur ( Kaltim ) disorot. Walhi sebut dokumennya hingga saat ini sulit diakses 

TRIBUNKALTIM.CO - Proyek PLTA Kayan oleh PT Kayan Hydro Energy (KHE) di Kecamatan Peso, Kalimantan Utara ( Kaltara ) yang akan menyuplai listrik ke Ibu Kota Nusantara ( IKN ) di Kaltim jadi sorotan.

Kini, proyek PLTA Kayan yang akan suplai listrik ke IKN Nusantara disorot pegiat lingkungan di Kaltim.

Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup ( Amdal ) serta Kajian Lingkungan Hidup Strategis ( KLHS ) dari PLTA Kayan dipertanyakan. 

Proyek PLTA Kayan ini disebut Presiden Joko Widodo ( Jokowi ) sebagai salah satu penyuplai pasokan listrik ke IKN Nusantara di Sepaku, Kaltim melalui sistem jaringan interkoneksi Kalimantan. 

Dokumen Amdal dan KLHS dari PLTA Kayan dipertanyakan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia ( Walhi ) Kaltim

Senin (5/9/2022) Direktur Walhi Kaltim, Yohana Tiko mengatakan, "Dokumen itu kami enggak pernah lihat. 

Sudah 8 tahun KHE masih bingung gitu.

Ini yang membuktikan tidak ada keseriusan perusahaan bicara soal keselamatan masyarakat.

Baca juga: Progres Terbaru PLTA Kayan Kapasitas 3,3 Ribu MW, Suplai Listrik ke IKN Nusantara

Ini yang harus ditekankan Gubernur Kaltara maupun Bupati Bulungan.

Ya sudah ditinjau ulang saja, bila perlu distop.” 

Jauh sebelum wacana IKN, proyek PLTA milik KHE ini sudah disiapkan sejak 10 tahun lalu, namun hingga kini belum ada perkembangan yang berarti.

Dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com, rencananya, proyek PLTA ini akan menghasilkan daya listrik 900 MW untuk tahap satu, lalu 1.200 MW tahap dua, 1.800 MW untuk tahap tiga dan seterusnya hingga tahap kelima.

Tiko mengatakan, dampak proyek tersebut bakal memindahkan dua desa yakni Long Peleban dan Long Lejuh, yang dihuni sekitar 700 jiwa.

Dampak lainnya terhadap ekosistem keaneragaman hayati, hilangnya lahan basah, kawasan hutan lindung serta gangguan fungsi hidrologi Sungai Kayan serta anak sungai yang berdampak terhadap hasil tangkapan ikan masyarakat lokal.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved