Travel

Sejarah Munculnya Wisata Gronjong Wariti, Susur Sungai dan Rindangnya Rumpun Bambu

Warga di Kediri, Jawa Timur menyulap sungai saluran irigasi yang kumuh menjadi sebuah tempat wisata air unggulan

Editor: Budi Susilo
KOMPAS com/M.AGUS FAUZUL HAKIM
Wisata air Gronjong Wariti di Desa Mejono, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. 

Para petugas di lokasi itu juga dilatih untuk beramah-tamah pada pengunjung. "Kami juga mengisi kegiatan yang disesuaikan dengan tema-tema tertentu, misal pas grebeg suro, atau pas hari kemerdekaan. Pokoknya banyak acara internal tapi bisa bikin pengunjung terhibur," lanjut Awik, yang berprofesi sebagai guru olahraga di suatu SMP ini.

Awik menambahkan, nama Gronjong Wariti tidak diambil secara asal-asalan. Nama gronjong merujuk pada nama sungai itu sendiri.

Adapun Wariti menurut Awik dari sebuah legenda atau cerita pewayangan Kangsa Adu Jago. Cerita itu di mana Adipati Kangsa yang tiap kali mati akibat pertarungan, bisa kembali hidup usai dimandikan di sendang Wariti.

"Juga sebagaimana dalam bahasa sansekerta, Wariti yang berarti penghidupan. Sehingga harapannya air yang bisa membawa penghidupan bagi masyarakat sekitarnya," ujarnya.

Menurut bapak empat anak ini, setidaknya ada lebih dari 25 persen total jumlah warga Desa Mejono terlibat dalam pengelolaan kawasan wisata itu.

Pelibatan mereka juga bukan sekadar pekerja yang mencari upah di tempat itu saja. Melainkan juga sebagai pemilik dari fasilitas yang ada di tempat wisata itu sendiri.

Model investasi Wisata besar skala desa itu milik masyarakat bersama, bukan dari pemodal pribadi. Awik menuturkan, awal-awal pendirian, mereka memang tidak mempunyai modal uang sama sekali.

Baca juga: Area Mangrove Desa Bebatu Tana Tidung Direncanakan jadi Wisata Alam

Sehingga dari situ timbul gagasan permodalan dengan sistem investasi. Awik dan Ndarik membuka peluang masyarakat sekitar menanam modal untuk mengelolanya. Caranya dengan berpatungan sesuai kemampuan.

Misalnya sebuah wahana bianglala yang harganya mencapai ratusan juta, dibeli dari hasil patungan beberapa warga.

"Nanti hasilnya keuntungan setiap bulan dibagi berdasarkan 'saham' yang ditanam," ungkap pria tersebut.

Sistem iuran tersebut berlaku untuk semua wahana-wahana yang ada. Biasanya persentase pembagian hasilnya adalah 20 persen untuk kas wisata, 20 persen petugas wahana, 5 persen petugas tiket, serta 55 persen dibagi ke pemilik saham. Awik sendiri mempunyai saham pada wahana bebek wisata.

Dari bebek wisata itu setiap bulannya dia mampu mengantongi hasil bersih Rp 9 juta.

"Padahal dulu modal awal beli satu perahu sekitar Rp 9 juta. Saya punya tiga perahu. Kini sebulannya dapat Rp 9 juta," ungkapnya.

Sedangkan omzet dari tempat wisata itu sendiri mencapai Rp 100 juta satu bulan, bahkan bisa lebih.

Dengan pola seperti itu, beban berat akan menjadi ringan karena ditanggung banyak orang.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved