Jumat, 12 Juni 2026

Horizzon

Tantangan Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan Jadi Gerbang IKN

Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan harus berbenah sedari awal, sebelum benar-benar menjadi gerbang IKN. Saat ini seakan tak mampu mengimbangi...

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Fransina Luhukay
Tribun Kaltim
Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim. 

Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto
Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim 

UNTUK yang baru pertamakali singgah di Balikpapan, mungkin butuh waktu cukup untuk mengakui bahwa Kota Balikpapan adalah kota yang luar biasa. Butuh waktu yang cukup untuk benar-benar mengakui bahwa Kota Balikpapan selain bersih dan rapi juga tertata dengan baik.

Ini tentu berbeda bagi siapapun yang sejak awal memang tinggal di Balikpapan maupun kabupaten/kota lain di sekitarnya. Masyarakat Balikpapan atau masyarakat yang tinggal di sekitarnya langsung bisa merasakan bahwa Kota Balikpapan adalah kota yang tertata dengan baik, bersih dan begitu rapi.

Kita tahu bagaimana Balikpapan ini sejak lama telah memberikan standar yang tinggi tentang bagaimana mengelola kota. Mendedikasikan diri sebagai kota jasa, Balikpapan benar-benar memberikan prioritas pada sisi bagaimana sebuah kota untuk bersolek dan harus selalu tampak nyaman untuk disinggahi.

Perda No.13/2015 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga telah menjadi tools sekaligus legacy bagi Balikpapan yang sukses membuat standar tertinggi untuk membuat pondasi yang kuat untuk menciptakan Balikpapan yang homey untuk dinikmati dan disinggahi. Perda tersebut juga linear dengan karakter masyarakat Balikpapan yang memang identik dengan pola hidup bersih, rapi dan tertata. Bahkan dalam perjalanannya, Balikpapan juga sudah mampu menciptakan habit yang luar biasa untuk urusan kebersihan dan kerapian ini.

Kesepakatan yang kemudian diformalkan dalam sebuah aturan ini telah mampu menciptakan budaya malu untuk tidak berpola hidup bersih di Balikpapan. Budaya malu untuk tidak berpola hidup bersih ini adalah kasta tertinggi dalam sebuah peradaban yang menjadi modal besar bagi Balikpapan untuk berakselerasi lebih. Hasilnya, akulturasi inilah yang menjadi satu dari sekian rahasia kenapa Balikpapan harus disimpulkan sebagai satu dari sekian kota di Indonesia yang paling nyaman untuk disinggahi.

Sayangnya, sebagaimana di awal kita diskusikan. Bagi mereka yang baru sekali dua kali singgah di Balikpapan, kesan tersebut tak langsung muncul dan otomatis. Meski kita sama-sama bisa merasakan jalanan kota yang bersih, rapi dan asyik, masih ada sesuatu yang ngeganjal. Ada yang kurang saat kita untuk pertamakalinya keliling Kota Balikpapan.

Keanehan tersebut pada akhirnya terjawab. Tamu-tamu yang berkunjung ke Balikpapan, utamanya yang masuk lewat penerbangan mendapatkan first impression terhadap Balikpapan yang kurang pas. Mendarat di Balikpapan, kita akan disambut dengan ucapan selamat datang di Kota Balikpapan oleh crew kabin di maskapai penerbangan yang membawa kita ke Balikpapan. Sayang begitu keluar dari pesawat, terminal kedatangan di Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan (tidak untuk mengatakan jelek) belum satu frekuensi dengan Kota Balikpapan yang mengedepankan kebersihan, kerapian yang menjadi fondasi rasa nyaman.

Terminal kedatangan di Bandara SAMS Sepinggan terkesan gelap, tidak rapi dan yang jelas penataannya tak memberi prioritas pada kenyamanan tamu-tamu yang berkunjung ke Balikpapan. Kesan pertama di terminal kedatangan inilah yang barangkali tersimpan di alam bawah sadar tamu-tamu kita di Balikpapan sehingga mendegradasi rasa nyaman saat berkunjung ke Balikpapan.

Sama halnya ketika mereka akan kembali meninggalkan Kota Balikpapan, di terminal keberangkatan, suasana panas juga menjadi keluhan banyak penumpang saat akan memasukkan bagasi. Tidak rapi, terkesan semrawut dan asal-asalan yang memberikan kesan tak sebanding dengan tata kota di Balikpapan yang nyaman ini tentu menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh pengelola bandara.

Apalagi kita tahu bahwa Sepinggan akan menjadi gerbang utama bagi publik yang akan berkunjung ke Ibu Kota Nusantara (IKN) yang progresnya tengah kita kebut saat ini. Pemerintah pusat berkomitmen, seiring dengan pembangunan IKN, maka Bandara SAMS Sepinggan akan menjadi satu-satunya bandara publik untuk pintu masuk ke IKN. Kalaupun nanti di kawasan IKN ada bandara, maka peruntukannya bukan untuk publik. Artinya, Bandara Sepinggan-lah yang nanti bakal menjadi gerbang masuk ke IKN. Jika menjadi pintu gerbang masuk Kota Balikpapan saja, Bandara SAMS Sepinggan masih harus berbenah diri, maka bagaimana nanti jika Sepinggan harus menjadi gerbang masuk IKN? Ini tentu pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pengelola Bandara SAMS Sepinggan. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved