Berita Kukar Terkini
Sejarah Hari Jadi Kota Tenggarong yang Diperingati Pada 28 September
Inilah Sejarah Hari Jadi Kota Tenggarong yang merupakan salah satu Kota di Provinsi Kalimantan Timur, diperingati pada tanggal 28 September tiap tahun
Penulis: Amilia Lusintha | Editor: Amilia Lusintha
Di samping itu, ada pula Masjid Jami' Hasanuddin yang merupakan masjid tertua di Tenggarong.
Karena perannya yang signifikan dalam sejarah, Tenggarong dikenal dengan julukan "Kota Raja".
Julukan ini mengacu pada masa lalu wilayah ini sebagai ibu Kota Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura serta sebagai tempat peristirahatan terakhir raja-raja kerajaan tersebut.
Baca Selanjutnya: Begini riwayat singkat berdirinya Kota tenggarong tercetus dari ide sultan aji imut
Penduduk asli yang mendiami wilayah Tenggarong, Kutai Kartanegara adalah suku kutai yang biasa disebut Dayak Kutai/Urang Kutai.
Adapun suku tersebut merupakan suku asli yang mendiami wilayah provinsi Kalimantan Timur.
Suku lainnya di Tenggarong yaitu suku Bugis, Jawa, Banjar, Benuaq, Bahau, Long Dusun, Kenyah, Tunjung.
Kemudian ada suku Bentian, Punan, Penihing, Ohong, Bukat, Basap, dan masih banyak lagi.
Sementara bahsa yang digunakan yaitu bahasa Melayu yang terbagi atas beberapa dialek.
Diantaranya, bahasa Kutai Tenggarong yang mendiami wilayah Tenggarong.
Ada juga dialek Kutai Muara Ancalong yang berdiam di wilayah muara Ancalong, Sebintulung, Kelinjau.
Untuk agama, berdasarkan data Kementerian Dalam Negeri tahun 2023, mayoritas orang Kutai memeluk agama Islam.
Jumlah penduduk kecamatan Tenggarong menurut agama yang dianut yakni Islam 92,58 persen, kemudian Kristen 7,14 persen, dimana Protestan 5,87 persen dan Katolik 1,27 persen.
Selebihnya beragama Hindu 0,14 persen, Buddha 0,11 persen, kepercayaan 0,02 persen dan Konghucu 0,01 persen. (*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20230831_Sejarah-Hari-Jadi-Kota-Tenggarong_2.jpg)