Sabtu, 2 Mei 2026

Berita Kaltim Terkini

Teror Buaya Meluas di Kaltim, BKSDA Ungkap Penyebab dan Cara Mencegahnya

Selain Kabupaten Kutai Timur dan Kota Bontang, belakangan reptil karnivora itu muncul di objek wisata Labuan Cermin Kampung Bidukbiduk dan Balikpapan.

Tayang:
Editor: Doan Pardede
TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO
Polsekwas Pelabuhan Semayang Balikpapan mengambil langkah dengan memasang imbauan waspada mengenai keberadaan buaya di Pantai Semayang Balikpapan, Selasa (29/8/2023). TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO 

Maka kebutuhan lahan untuk pembangunan juga terus meningkat.

Namun seiring masifnya pembangunan, khususnya daerah perairan, banyak yang lupa bahwa satwa terutama buaya sudah lebih dulu berada di sana.

Padahal sama dengan manusia, pertumbuhan buaya terbilang pesat.

Dimana satu buaya betina sebutannya, bisa menghasilkan puluhan telur dan sebagian besar berhasil menetas.

"Tapi mereka dihadapkan dengan habitat mereka yang semakin tergerus," ucapnya.

Dengan kenyataan itulah membuat buaya nekat memunculkan diri di tempat yang tidak seharusnya.

Padahal buaya merupakan hewan yang menyukai ketenangan selama pakan di habitatnya mencukupi.

Reptil yang berdarah dingin itu memiliki kebiasaan berjemur, yang membuat buaya mau tidak mau harus berada di tempat terbuka. "Karena ia harus menyesuaikan suhu. Dia berjemur untuk menyerap panas agar jantungnya kuat menyesuaikan suhu," bebernya.

Meski begitu ia mengatakan dalam hal ini tidak bisa menyalahkan masyarakat, pemerintah ataupun buaya itu sendiri.

Oleh sebab itu, menurutnya, perlu kajian bersama untuk penanganan jangka panjang.

Sebab ungkapnya, sejauh ini belum ada solusi permanen yang bisa menengahi buaya dan manusia yang mau tidak mau hidup berdampingan.

"Kenapa tiba-tiba buaya muncul di danau, pantai dan lain-lain? Kan memang habitatnya? Cara agar mereka tak muncul lagi bagaimana? Ya jangan rusak mangrove mereka," tegasnya.

Selain itu, munculnya buaya di tempat-tempat tidak seharusnya belakangan ini juga dipengaruhi oleh kekeringan panjang yang melanda Kalimantan Timur, hingga membuat Sungai Mahakam surut ekstrem.

"Buaya pasti mencari tempat yang sumber pakannya lebih memadai. Mereka hanya memiliki naluri untuk bertahan hidup. Jadi kita manusia yang berakal dan berperasaan yang harus paham situasi ini," sambungnya.

Lalu terkait koordinasi dengan pemerintah daerah, dikatakannya baik kabupaten dan kota sudah paham bahwa hampir di seluruh wilayah Kaltim merupakan habitat buaya.

Saat ini setiap pemerintah daerah sudah paham untuk melakukan pelaporan kepada BKSDA Kaltim apabila ada keluhan mengenai
kemunculan buaya yang dianggap mengancam masyarakat setempat.

"Seperti laporan terbaru buaya Riska di Bontang. Kami mau rescue tapi informasinya buayanya hilang entah kemana. Cuma ya itu, kita tak bisa terus menerus hanya melakukan penanganan temporer. Harus ada kajian bersama untuk solusi permanen," pungkasnya.

Sebagai informasi tambahan, apabila ada laporan kemunculan buaya, BKSDA akan melakukan rescue dan melepaskannya ke wilayah muara.

Selain itu, BKSDA Kaltim bekerja sama dengan penangkaran Balikpapan dan Tarakan-Kalimantan Utara apabila ada buaya yang tidak bisa dilepas ke alam bebas.

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved