Selasa, 19 Mei 2026

Berita Kukar Terkini

Kampung Ekologi di Desa Prangat Baru, Cikal Bakal Kopi Luwak ala Kukar

Potensi kopi luwak di Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara kini mulai dilirik dan menjadi komoditas unggulan

Tayang:
TRIBUNKALTIM.CO/HO
Potensi kopi luwak di Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara kini mulai dilirik dan menjadi komoditas unggulan.TRIBUNKALTIM.CO/HO 

TRIBUNKALTIM.CO,TENGGARONG - Potensi kopi luwak di Desa Perangat Baru, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara kini mulai dilirik dan menjadi komoditas unggulan.

Hal tersebut membuat PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) berkomitmen menyalurkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau CSR perusahaannya.

Mereka mengembahkan program bernama Kapak Prabu. Ini merupakan program budi daya Kopi Liberika dan Kopi Luwak yang berlokasi di Desa Prangat Baru, Kecamatan Marangkayu.

Sejak tahun 2020, program Kapak Prabu terus dikembangkan hingga kini menjadi kampung ekologi.

Head of Communication, Relations, & CID (CRC) PHKT Zona 10 Dharma Saputra menuturkan, bahwa konsep kampung ekologi ini diharapkan dapat memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas.

Baca juga: 3 Desa di Kukar Mimpi jadi Sentra Kopi Luwak dan Liberika

Baca juga: Kampung Kopi Luwak di Marangkayu Kukar Hasilkan 1 Ton Kopi Dalam Setahun

“Konsep kampung ekologi kita usung agar masyarakat tidak hanya dapat menikmati hasil atau produk Kopi Liberika dan Kopi Luwak saja, tapi juga bisa mempelajari ilmu dari mulai tata cara pembibitan hingga penyajian kopi," ujarnya, Kamis (16/11/2023).

"Termasuk juga di dalamnya cara melakukan konservasi luwak, lebah kelulut, dan lainnya. Tentunya, semua proses tersebut dilakukan dengan mengedepankan prinsip ramah lingkungan,” sambung Dharma.

Terkait kebermanfaatan program, Ketua Kelompok Tani Kapak Prabu, Rindoni menjelaskan, hingga tahun 2022, program ini telah menanam 13.560 bibit Kopi Liberika di atas lahan seluas 27 hektare.

Selain milik Rindoni, area tanah tersebut dikelola oleh 34 petani kelompok Kapak Prabu lainnya.

“Saat ini, puluhan warga dari dua tetangga desa Prangat Baru yaitu Desa Prangat Selatan dan Desa Makarti juga telah bergabung dan mereplikasi budi daya Kopi Liberika di wilayah mereka,” tambahnya.

Dalam perjalanan mewujudkan kampung ekologi, PHKT juga terus memberikan pendampingan dan pengembangan kepada Kapak Prabu. Tidak hanya di bidang kopi, akan tetapi juga penerapan teknologi ramah lingkungan, konservasi, hingga wisata.

"Berkat pendampingan yang didukung PHKT, memang beberapa tahun ini banyak tamu yang berkunjung dan belajar di Kapak Prabu, baik dari pemerintahan, lembaga, perusahaan hingga universitas,” terang Rindoni.

Sementara itu, Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan menyatakan bahwa PHI dan seluruh anak perusahaan dan afiliasinya berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas serta kemandirian seluruh mitra binaan.

Hal ini dibuktikan dengan terus dilakukannya upaya pendampingan serta dukungan berupa pengembangan kapasitas moril maupun materil kepada mitra binaan.

"Kami terus menjalin diskusi dan kerja sama terkait pengembangan program Kapak Prabu agar kebermanfaatannya dapat dirasakan secara luas di masyarakat," ucapnya..

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved