Selasa, 19 Mei 2026

Tribun Kaltim Hari Ini

Pesut Mahakam Bernama Four Ditemukan Tewas di Perairan Bukit Jering Kukar

Dari pemeriksaan sementara, belum diketahui pasti penyebab kematian Four. Pasalnya, Danielle tidak menemukan adanya luka atau jaring di tubuh pesut

Tayang:
Penulis: Martinus Wikan | Editor: Budi Susilo
HO/Rasi
PENEMUAN PESUT MATI - Ilustrasi Pesut Mahakam. Satu mamalia laut pesut ditemukan mati di Sungai Mahakam, tepatnya di Perairan Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bangkai pesut tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang kebetulan sedang berada di sungai dan langsung dievakuasi atas bantuan BPSPL Pontiatak untuk pemeriksaan oleh BKSDA Kaltim, Kamis 22 Februari 2024. 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Kali ini mamalia laut pesut ditemukan mati di Sungai Mahakam, tepatnya di Perairan Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Bangkai pesut tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang kebetulan sedang berada di sungai dan langsung dievakuasi atas bantuan BPSPL Pontiatak untuk pemeriksaan oleh BKSDA Kaltim.

Sukran bersama rekannya Rendra, yang merupakan salah satu saksi mata menyebut, pesut yang mati berukuran besar dengan kondisi kulit yang sudah terkelupas.

"Pesutnya besar dan kulitnya terkelupas," kata dia, Kamis (22/2/2024).

Baca juga: Pesut Mahakam Ditemukan Mati di Perairan Bukit Jering Kukar, Bernama Four Jenis Jantan 

Peneliti pesut dari Yayasan Konservasi (YK) Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb menyebut pesut yang mati merupakan pesut jantan bernama Four.

Pesut ini dikenal melalui foto-identifikasi sirip punggung semenjak studi dimulai dari tahun 1999. Artinya, cukup berusia.

PENEMUAN PESUT MATI - Satu mamalia laut pesut ditemukan mati di Sungai Mahakam, tepatnya di Perairan Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bangkai pesut tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang kebetulan sedang berada di sungai dan langsung dievakuasi atas bantuan BPSPL Pontiatak untuk pemeriksaan oleh BKSDA Kaltim, Kamis 22 Februari 2024.
PENEMUAN PESUT MATI - Satu mamalia laut pesut ditemukan mati di Sungai Mahakam, tepatnya di Perairan Bukit Jering, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Bangkai pesut tersebut pertama kali ditemukan oleh warga yang kebetulan sedang berada di sungai dan langsung dievakuasi atas bantuan BPSPL Pontiatak untuk pemeriksaan oleh BKSDA Kaltim, Kamis 22 Februari 2024. (HO/Rasi)

Nama Four diberikan kepada pesut tersebut karena, pada awal penelitian YK RASI memberikan nama menggunakan identitas berupa angka. Namun, sejak 2016, para pesut yang diidentifikasi sudah mulai diberikan nama daripada nomor.

"Selamat berpisah Four, kamu meninggalkan bekas di hati kami karena meski jarang melakukan perilaku heboh kamu selalu tetap bisa diandalkan dan ditemukan di tiap kali kami survei," ujarnya.

Baca juga: Pokdarwis Desa Pela Ingin Perda Konservasi Pesut Mahakam di Kukar Segera Selesai

Dari pemeriksaan sementara, belum diketahui pasti penyebab kematian Four. Pasalnya, Danielle tidak menemukan adanya luka atau jaring di tubuh pesut jantan tersebut. Untuk itu, YK RASI dan petugas Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim akan memeriksa kematian Four.

Lebih lanjut, histopatologi dan analisis toksikologi akan dilakukan di laboratorium. "Kami berterimakasih atas bantuan semua pihak yang terlibat. Semoga dapat diketahui kematian Four setelah nekropsi dan analisa laboratorium selesai," harapnya.

Sebelumnya, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara menyoroti proses pembentukan Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam.

Pasalnya, sejak 2022 lalu, Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) ini belum juga rampung di susun. Ketua Pokdarwis Desa Pela, Alimin mengaku, telah mengkampanyekan perda Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam sejak 2020.

Baca juga: Perda Perlindungan Pesut Mahakam Tak Kunjung Disahkan, Sejumlah Pihak Desak Rampung Tahun Depan

Mengingat keberadaan mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam itu hanya tersisa sekira 70 ekor di alam bebas.

Keinginan itu diperkuat dengan fakta bahwa, kehadiran Pesut Mahakam di perairan Desa Pela merupakan daya tarik utama wisatawan yang berkunjung kesana.

Sehingga, untuk menyelamatkan mamalia yang sudah masuk dalam kategori sangat terancam punah ini. Pihaknya sangat berharap Perda Kawasan Konservasi Perairan Habitat Pesut Mahakam cepat rampung.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved