Rabu, 6 Mei 2026

Berita Samarinda Terkini

Aulia Agustini Sang Pegiat Sastra dan Penulis Lokal Asal Samarinda, Ingin Abadi Lewat Tulisan

Di balik kesibukannya sebagai pengajar dan pelajar terbaik di Universitas Mulawarman Samarinda, Aulia tak henti berkarya.

Tayang:
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Budi Susilo
Kompas.com dan HO/Aulia Agustini
PEGIAT SENI SASTRA - Aulia Agustini, gadis asal Samarinda yang aktif dalam giat literasi dan sastra meski di bulan Ramadhan, Kamis (21/3/2024). Aulia juga kerap menjadi pembicara dalam kegiatan literasi, hingga ke tingkat Asia Tenggara. Sejauh ini yang paling membanggakan adalah ketika bisa masuk ke ajang se-Asia Tenggara. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Aulia Agustini, adalah gadis asal Samarinda yang mendedikasikan dirinya untuk dunia literasi dan penulisan, khususnya bertema lokalitas Kalimantan Timur

Di balik kesibukannya sebagai pengajar dan pelajar terbaik di Universitas Mulawarman Samarinda, Aulia tak henti berkarya mengenalkan seputar mitos dan budaya di Kalimantan Timur melalui tulisannya.

Sejak kecil, kecintaan Aulia pada dunia literasi sudah tumbuh subur.

Minat bacanya yang tinggi mengantarkannya pada dunia tulis-menulis, dengan tekad untuk mengabadikan budaya lokal dalam karya tulisnya.

Baca juga: DPRD Kaltim Uji Publik Raperda Bahasa, Sigit Wibowo: demi Perlindungan Sastra Lokal Kalimantan Timur

Baginya, kunci utama dalam menyeimbangkan berbagai peran adalah kedisiplinan dan manajemen waktu secara baik.

Setiap manusia memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam seharinya. 

PEGIAT SENI SASTRA - Aulia Agustini, gadis asal Samarinda yang aktif dalam giat literasi dan sastra meski di bulan Ramadhan, Kamis (21/3/2024). Aulia juga kerap menjadi pembicara dalam kegiatan literasi, hingga ke tingkat Asia Tenggara. Sejauh ini yang paling membanggakan adalah ketika bisa masuk ke ajang se-Asia Tenggara.
PEGIAT SENI SASTRA - Aulia Agustini, gadis asal Samarinda yang aktif dalam giat literasi dan sastra meski di bulan Ramadhan, Kamis (21/3/2024). Aulia juga kerap menjadi pembicara dalam kegiatan literasi, hingga ke tingkat Asia Tenggara. Sejauh ini yang paling membanggakan adalah ketika bisa masuk ke ajang se-Asia Tenggara. (HO/Aulia Agustini)

"Meskipun kita dipenuhi kesibukan, Tidak ada alasan untuk tidak berkarya. Kuncinya ada pada perencanaan dan penjadwalan yang tepat,” ungkapnya pada TribunKaltim.co, Kamis (21/3/2024).

Meski demikian, Aulia mengaku lebih menyukai bacaan fiksi yang berbungkuskan filsafat dan lokalitas.

Baca juga: Segudang Manfaat Bengkel Sastra Penulisan Naskah Drama di Paser

Baginya, membaca bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang mendapatkan pengetahuan.

Setiap buku bisa mengubah pembacanya, baik ke arah positif maupun negatif.

"Maka dari itu menurut saya penting untuk bijak dalam memilih bacaan,” ungkapnya.

Berkegiatan di Tengah Lapar Dahaga

Di bulan Ramadhan ini, tak membuat semangat Aulia menurun. Dirinya tetap aktif menulis dan berkegiatan di tengah lapar dan dahaga.

"Ramadhan tahun ini agak padat karena harus menyeimbangkan waktu bekerja, kuliah, dan penelitian,” ucap gadis kelahiran 1998 ini.

Berkat dedikasi dan kegigihannya, Aulia telah menorehkan berbagai prestasi di bidang literasi.

Karya-karya Aulia banyak terinspirasi oleh penulis klasik dari Brazil.

Baca juga: Komunitas Gembel Penajam Gelar Lomba Sastra sebagai Upaya Tingkatkan Semangat Literasi Pemuda PPU

Ia juga telah menerbitkan beberapa tulisan di media cetak dan elektronik, bahkan dalam bentuk buku.

“Karya saya yang pernah di muat di antaranya seperti cerita pendek yang berjudul ‘Kuyang’ dan ‘Santet’,” sebutnya.

Aulia juga kerap menjadi pembicara dalam kegiatan literasi, hingga ke tingkat Asia Tenggara.

Sejauh ini yang paling membanggakan adalah ketika bisa masuk ke ajang se-Asia Tenggara.

"Meski hanya melalui kolaborasi karya puisi dan esai, saya bersyukur,” ungkapnya.

Meskipun telah mencapai berbagai prestasi, Aulia tetap menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan waktu, kelelahan, dan kehabisan ide.

Baca juga: Jawaban Sejak Kapan HB Jassin Bekerja di Balai Pustaka dan Mengapa Dijuluki Paus Sastra Indonesia

Namun baginya, tantangan tersebut tak membuatnya berhenti berkarya melalui tulisan.

Gadis yang juga aktif memimpin komunitas sastra bernama "TerAksara" ini tetap gigih menunjukkan semangatnya.

Kadang tantangannya saat menulis bisa kehabisan ide. Tapi tetap harus berusaha untuk bagaimana caranya ide tidak pernah habis untuk dituangkan dalam karya.

"Karena saya ingin serta abadi dalam tulisan saya,” pungkasnya.

(*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

 

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved