Jumat, 17 April 2026

Jejak Islam di Bumi Etam

Jejak Islam di Bumi Etam 21 - Makam Kuno Bertuliskan Arab di Desa Pasir Mayang

Desa Pasir Mayang di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur menyimpan banyak cerita sejarah syiar Islam. Jejaknya masih bisa dilihat hingga saat ini.

TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO
Deretan makam kuno di Desa Pasir Mayang, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Nisan di makam-makam kuno ini terbuat dari kayu ulin dan beberapa di antaranya berasal dari abad ke-14. Konon, ini menjadi salah satu bukti bahwa penyebaran Islam saat itu singgah di desa ini. TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO 

Di antara rimbunan ilalang ada makam kuno dengan nisan berbahan kayu ulin. Nisan tersebut berhiaskan tulisan Arab yang di antaranya dipercaya berasal dari abad ke-14. Tak hanya satu, makam-makam tersebut tersebar di beberapa lokasi.

TRIBUNKALTIM.CO - Desa Pasir Mayang di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur menyimpan banyak cerita sejarah syiar Islam. Jejaknya masih bisa dilihat hingga saat ini.

Di beberapa kawasan di Desa Pasir Mayang, Kecamatan Kuaro, Kabupaten Paser terdapat peninggalan artefak terutama lahan makam Datu Pasir Mayang dan Ratu Bura Daya.

Juru kunci makam Datu Pasir Mayang, Asmuni mengatakan desa ini dipercaya sebagai desa tertua di tanah Paser lantaran lokasinya yang strategis berada di pesisir pantai.

Konon, pesisir pantai di desa tersebut dipercaya sebagai pelabuhan internasional, menjadi salah satu bukti bahwa penyebaran Islam saat itu singgah di desa ini melalui jalur perdagangan mulai dari pedagang Saudi Arabia hingga China.

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 20 - Pintu Gerbang Masuknya Islam di Paser

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 19 - Berawal dari Murid Sunan Giri

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 18 - Aji Amir Hasanuddin, Ulama Besar Pemugar Masjid Sultan

Jalan lorong panjang menjadi rute awal peziarah menuju area dari lokasi letak peninggalan artefak tersebut.

Lekat dengan pepohanan yang menjulang tinggi, menjadi pemandangan di sepanjang jalan menuju area pemakaman.

Adapun peninggalan situs-situs sejarah sebuah artefak tersebut berupa tempayan, piring melawin, mangkuk, cangkir, keris, emas, uang koin, dan lain sebagainya.

Artefak tersebut terbuat dari batu giok peninggalan Dinasti Ming dan Dinasti Cheng Ho yang dipercaya telah terkubur ratusan tahun lamanya.

Beberapan peninggalan sejarah tersebut, biasa ditemukan warga ketika hendak menggali tanah.

Maka tidak heran jika lahan pemakaman tersebut kerap ditemukan beberapa bekas galian lubang untuk mencari barang antik peninggalan sejarah.

"Waktu duduk di bangku SD sekitar tahun 80-an saya juga pernah menemukan pecahan tempayan bertuliskan huruf palawa yang berarti berasal dari Kerajaan Majapahit," kata Asmuni.

Baca juga: Jejak Islam di Bumi Etam 15 - Ubah Kampung Maksiat jadi Kampung Masjid

Tidak hanya di sekitar lahan pemakaman, artefak ini juga sering kali ditemukan warga sekitar ketika hendak mencari ikan atau sekadar menyusuri area pesisir pantai.

"Kadang ada juga waktu berjalan di pinggir pantai itu dapat tempayan, atau ketika mencari ikan tiba-tiba ada nyangkut yang lebarnya bisa 20 bahkan sampai 40 cm di jaring ikan," tambahnya.

Pintu gerbang menuju makam Datu Bejambe di Desa Pasir Mayang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Selain makam Datu Bejambe, di komplek pemakaman ini masih banyak bukti penyebaran Islam di Desa Pasir Mayang.
Pintu gerbang menuju makam Datu Bejambe di Desa Pasir Mayang, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Selain makam Datu Bejambe, di komplek pemakaman ini masih banyak bukti penyebaran Islam di Desa Pasir Mayang. (TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO)

Di samping itu, ada pula wujud penampakan makam-makam kuno yang tersebar di area makam Datu Pasir Mayang.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved