Minggu, 3 Mei 2026

Berita Nasional Terkini

Terjawab Efek Samping Langka yang Ditimbulkan Vaksin Covid-19 AstraZeneca, Terungkap di Pengadilan

AstraZeneca merupakan salah satu perusahaan pembuat vaksin Covid-19, yang banyak digunakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Tayang:
TRIBUNKALTARA.COM/ANDI PAUSIAH
AstraZeneca, salah satu vaksin Covid-19 yang digunakan masyarakat Indonesia. Terbaru, Efek samping dari penggunaan vaksin Covid-19 akhirnya diakui oleh AstraZeneca. 

TRIBUNKALTIM.CO - Efek samping dari penggunaan vaksin Covid-19 akhirnya diakui oleh AstraZeneca.

AstraZeneca merupakan salah satu perusahaan pembuat vaksin Covid-19, yang banyak digunakan di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.

Dalam sebuah dokumen pengadilan, AstraZeneca mengaku vaksin Covid-19 yang dibuatnya menimbulkan efek samping langka.

Efek samping langka ini terungkap setelah AstraZeneca digugat dalam gugatan class action.

Baca juga: Bantah 60.000 Dosis Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa, Kabid P2P Dinkes Paser Sebut Hanya 12.580 Dosis

Baca juga: 12.580 Dosis Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa, Kabid P2P Dinkes Paser Pertanyakan Tujuan Pemberitaan

Dalam gugatan tersebut, vaksin AstraZeneca yang dikembangkan bersama University of Oxford menyebabkan kematian dan cedera serius.

Diberitakan The Telegraph, Minggu (28/4/2024), para pengacara berpendapat, vaksin AstraZeneca menimbulkan efek samping buruk pada sejumlah kecil keluarga.

Kasus pertama diangkat pada 2023 oleh Jamie Scott, ayah dua anak, yang mengalami cedera otak permanen karena pembekuan darah dan pendarahan di otak usai menerima vaksin pada April 2021.

Saat itu, rumah sakit menelepon istrinya sebanyak tiga kali untuk memberi tahu bahwa suaminya akan meninggal.

Tapi AstraZeneca menentang klaim tersebut.

Namun, dalam dokumen hukum yang diserahkan ke Pengadilan Tinggi di Inggris pada Februari lalu, perusahaan farmasi ini menyebut vaksinnya dapat menyebabkan Sindrom Trombosis dengan Trombositopenia (TTS).

"Diakui bahwa vaksin AZ, dalam kasus yang sangat jarang, dapat menyebabkan TTS. Mekanisme alasannya tidak diketahui," tulis AstraZeneca.

"Lebih jauh lagi, TTS juga bisa terjadi tanpa adanya vaksin AZ (atau vaksin apa pun). Penyebab dalam setiap kasus individu akan bergantung pada bukti ahli," lanjutnya.

TTS adalah masalah kesehatan yang menyebabkan penderita mengalami pembekuan darah serta jumlah trombosit darah rendah.

Total 51 kasus telah diajukan ke Pengadilan Tinggi, dengan korban dan keluarga yang menuntut ganti rugi hingga sekitar 100 juta poundsterling atau setara Rp 2 triliun (kurs Rp 20.392 per poundsterling).

Baca juga: Ditlantas Polda Kaltim Helat Vaksinasi Dosis Kedua dan Booster, Siapkan 1000 Dosis Jenis AstraZeneca

Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengatakan, vaksin AstraZeneca telah disetujui untuk digunakan pada manusia.

"Waktu vaksin dikeluarkan sudah ada uji keselamatan pada manusia, sehingga disetujui untuk digunakan," ujarnya, saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa (30/4/2024).

Nadia mengungkapkan, efek samping vaksin ini bisa saja terjadi pada orang yang rentan atau memiliki risiko kesehatan, seperti memiliki riwayat penyakit lain.

Namun, dia menegaskan, manfaat penggunaan vaksin Covid-19 AstraZeneca jauh lebih besar daripada efek sampingnya.

Bersama jenis vaksin lainnya, vaksin AstraZeneca juga dinilai membantu menyelamatkan nyawa dan mengurangi risiko sakit yang lebih berat karena infeksi virus corona.

"Kasus yang efek samping sangat kecil dan jarang, sehingga tentunya aspek manfaat yang lebih besar itu yang diutamakan," ujarnya.

Kilas Balik Perjalanan Covid-19 di Dunia

China melaporkan kasus Covid-19 pertama di dunia pada 31 Desember 2019.

Baca juga: Perbandingan Efektivitas Vaksin Booster Pfizer, AstraZeneca, dan Moderna untuk Tangkal Virus Corona

Ini menjadi awal dari serangkaian salah satu krisis global paling parah.

Bukan hanya sistem kesehatan, ekonomi dan berbagai sektor juga ikut tumbang akibat pandemi Covid-19 ini.

Temuan wabah mematikan itu bermula ketika kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di China menerima informasi mengenai penyakit sejenis pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei.

Menurut otoritas setempat, beberapa pasien terkonfirmasi Covid-19 adalah pedagang yang berjualan di Pasar Ikan Huanan.

Pada saat itu, pasien mengeluhkan gejala berupa demam, kesulitan bernapas, dan munculnya lesi di kedua paru-paru.

"Berdasarkan informasi awal dari tim investigasi China, tidak ada bukti penularan yang signifikan dari manusia ke manusia dan tidak ada infeksi pada petugas kesehatan yang dilaporkan," tulis WHO.

Meski pertama kali dilaporkan pada 31 Desember 2019, kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di China sebenarnya terjadi sejak 8 Desember 2019.

Berdasarkan keterangan dokter China di RS Jin Yin-tan, Wuhan, infeksi pertama Covid-19 bahkan sudah terjadi pada 1 Desember 2019.

Baca juga: Daftar Efek Samping Vaksin Covid-19 Booster, dari Pfizer, Moderna, Sinovac hingga AstraZeneca

Hal tersebut diketahui dari laporan yang dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet.

Seiring berjalannya waktu, dokter di RS Pusat Wuhan mengirimkan sampel dari pasien lain dengan demam yang persisten untuk dilakukan uji laboratorium.

Hasilnya, virus tersebut menyerupai sindrom pernapasan akut parah atau SARS.

Dokter yang mengepalai ruang gawat darurat RS Pusat Wuhan, Ai Fen, kemudian mengunggah gambar laporan dari laboratorium pada 30 Desember 2019.

Dokter lain bernama Li Wenliang juga mengunggah ulang gambar tersebut dan membagikannya.

Sayangnya, tindakan Ai Fen dan Li Wen Liang itu langsung mendapat teguran dari polisi.

Pada saat itu, mereka dianggap menyebarkan desas-desus.

Dari sinilah, Li Wen Liang mendapat julukan sebagai whistleblower kasus Covid-19.

Baca juga: Bantah 60.000 Dosis Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa, Kabid P2P Dinkes Paser Sebut Hanya 12.580 Dosis

Pemerintah China mengumumkan bahwa seorang penduduk Hubei berusia 55 tahun diduga menjadi orang pertama yang terjangkit Covid-19 pada 17 November 2019, lebih awal dari perkiraan sebelumnya.

Berawal dari kasus tersebut, peningkatan pasien mulai terjadi setiap harinya dengan jumlah 1-5 kasus.

Pada 20 Desember 2019, jumlah total kasus penduduk China terkonfirmasi Covid-19 telah mencapai 60 orang.

China secara berkala melaporkan kepada WHO dan negara-negara lain di sekitarnya mengenai penyebaran Covid-19.

WHO kemudian mengumumkan darurat kesehatan masyarakat pada 30 Januari 2020.

Selanjutnya, organisasi tersebut menetapkan penyebaran pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya asal Wuhan sebagai Covid-19 pada 11 Februari 2020.

Kasus pertama Covid-19 di luar China pertama kali dilaporkan di Thailand pada 13 Januari 2020.

Setelah Negeri Gajah Putih, wabah tersebut juga merebak di Timur Tengah pada 19 Januari 2020 dengan jumlah 19 kasus.

Baca juga: 12.580 Dosis Vaksin AstraZeneca Kedaluwarsa, Kabid P2P Dinkes Paser Pertanyakan Tujuan Pemberitaan

Di Eropa, Prancis melaporkan temuan kasus Covid-19 pertama dengan jumlah tiga kasus pada 25 Januari 2020.

Kementerian Kesehatan, Penduduk, dan Reformasi Rumah Sakit Aljazair juga melaporkan kasus Covid-19 pertama di negaranya pada 25 Februari 2020.

Kasus Covid-19 pertama di Indonesia

Setelah beberapa negara di Eropa, Asia, dan Afrika melaporkan temuan kasus Covid-19, penyakit ini akhirnya masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2020.

Kasus Covid-19 pertama di Tanah Air menjangkiti seorang perempuan berusia 31 tahun bernama Sita Tyasutami (pasien 1) dan ibunya yang berusia 64 tahun Maria Darmaningsih (pasien 2).

Dilansir dari Kompas.com, Selasa (2/3/2021), keduanya adalah warga Depok, Jawa Barat.

Mereka tertular Covid-19 setelah melakukan kontak erat dengan seorang WN Jepang yang tinggal di Malaysia pada 14 Februari 2020.

Pada saat itu, pasien 1 dan pasien 2 mendatangi klub dansa di sebuah restoran di Jakarta Selatan.

WN Jepang yang bertemu pasien 1 dan pasien 2 dinyatakan positif Covid-19 setelah meninggalkan Indonesia. (*)

Ikuti Saluran WhatsApp Tribun Kaltim dan Google News Tribun Kaltim untuk pembaruan lebih lanjut tentang berita populer lainnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved