Opini
Nabi Muhammad SAW dan Spirit Perubahan
Sebagai manusia, Nabi Muhammad mempunyai kepribadian yang melampaui batas kewajaran yang dimiliki manusia pada umumnya.
Oleh: Dr. H. Rudy Mas'ud, MM
Ibnu Arabi berkata bahwa Nabi Muhammad SAW adalah insan kamil. Insan Kamil artinya manusia sempurna atau paripurna.
Sebagai manusia, Nabi Muhammad mempunyai kepribadian yang melampaui batas kewajaran yang dimiliki manusia pada umumnya.
Inilah yang membuat Ibnu Arabi menyebutnya sebagai "insan kamil", yaitu manusia sempurna, atau manusia paripurna. Tidak ada manusia yang melampaui kepribadian Nabi.
Insan kamil adalah sebuah istilah yang tidak hanya normatif, di mana keimanan menjadi doktrin bagi umat Islam untuk wajib mengakuinya. Tapi, insan kamil memiliki argumentasi substansial di mana kepribadian Nabi Muhammad SAW yang paripurna itu juga berbasis pada nalar rasional.
Kemuliaan moral dan jangkauan visi perjuangan kemanusiaan Nabi Muahmmad SAW diakui oleh sejarah.
Robert N Bellah, seorang ilmuwan barat memberi apresiasi objektif terhadap Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa peradaban yang dibangun Muhammad terlalu modern dan telah melampaui zamannya.
Ini adalah pengakuan jujur dari seorang ilmuwan barat yang non muslim. Di sinilah letak nalar rasionalitas yang bisa dipertanggungjawabkan oleh sejarah.
Tingginya akhlak Nabi dan kokohnya perdaban yang dibangun berbasis visi jangka panjang menjadi magnet berbagai kelompok manusia.
Mereka tidak saja mengakui, tapi juga mengikutinya. Mereka bersyahadah. Syahadah merupakan pernyataan iman bahwa Muhammad adalah seorang Rasul.
Cinta dan kerinduan atas kemuliaan akhlak dan totalitas serta sempurnanya perjuangan yang diperankan oleh seorang bernama Muhammad Rasulullah, membuat umat Islam setiap tahun mengadakan peringatan hari kelahirannya.
Hari kelahiran ini populer disebut oleh masyarakat dengan istilah Maulid Nabi.
Memperingati Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad adalah tradisi yang telah puluhan tahun diwarisikan kepada umat Islam Indonesia, bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Semula tradisi ini dilakukan oleh para ulama NU (Nahdhatul Ulama), belakangan, hampir ormas dan aktivis muslim mengadakan Maulid Nabi.
Jika dulu perayaan Maulid Nabi ada di pelosok kampung, sekarang sudah masuk ke kota-kota besar, bahkan perkantoran pemerintah.
Perdebatan soal "bid'ah" terkait perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah meredup. Secara bertahap mulai hilang ditelan oleh semakin tingginya kesadaran umat atas pentingnya ekspresi cinta Nabi dan silaturahmi sosial.
Umat semakin sadar bahwa perbedaan itu bagian dari pluralitas yang secara alamiah (sunnatullah) harus diterima.
Maka, sikap saling menghargai, menghormati, bahkan mendukung satu sama lain disadari telah menciptakan suasana yang lebih kondusif bagi syiar Islam.
Memperingati hari lahir Rasulullah secara substansial itu adalah bentuk rasa cinta umat kepada Nabinya. Bagaimana idelanya dalam mengekapresikan rasa cinta?
Pertama, sam'an wa tha'atan (dengar dan taat). Bersedia menerima apa pun yang datang dari Rasulullah. Baik berupa perintah maupun larangan.
Nilai-nilai apa pun yang dihadirkan oleh Rasulullah, itu pasti mendapatkan jaminan kebenaran dan kebaikan.
Tidak ada nilai-nilai dari Rasulullah yang secara moral dan sains diragukan. Semua terkonfirmasi kebenaran dan kebaikannya.
Inilah konsekuensi dari sebuah kepercayaan. Kalau anda percaya, ya harus terima. Begitulah doktrin dan komitmen keimanan.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur'an: "apa yang didatangkan Rasulullah, ambil. Yang dilarang, tinggalkan (Q.S Al-Hasr:7)."
Prinsip sami'na wa atha'na adalah pondasi keimanan yang paling mendasar. Dari sini, loyalitas dan militansi akan tumbuh.
Kedua, amal ma'ruf nahi mungkar. Rasulullah hidup secara aktif dalam memproduksi kebaikan amal (perbuatan baik).
Ada hadis Nabi yang cukup populer: "Khoirunnas anfauhum linnas" (sebaik-baik manusia yang bermanfaat bagi manusa lainnya).
Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut secara moral untuk hidup bermanfaat.
Sabda Rasulullah: "tidak beriman seseorang sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."
Cinta itu konkret. Harus ada bentuknya. Apa bentuknya? memberi manfaat kepada sesama.
Maka, di dalam iman ada perintah yang wajib dipenuhi sepert zakat. Ada juga anjuran infak, sedekah, dan wakaf. Semua ini adalah bentuk nyata dari tanggung jawab sosial.
Di dalam Al-Qur'an tidak disebutkan ada orang menyesal karena tidak menjalankan shalat, tidak puasa dan tidak haji. Tapi manusia menyesal karena tidak berinfaq. (Q.S. Al-Munafiquun: 10-11).
Semua ibadah ritual itu ujungnya berbuat baik dan memberi manfaat kepada orang lain. Shalat diakhiri dengan salam. Itu urusan sosial. Puasa diakhiri dengan zakat fitrah. Itu urusan sosial. Haji, ada DAM. Ini juga urusan sosial.
Ketiga, setiap Rasul diturunkan oleh Allah untuk membawa perubahan. Tidak ada Rasul yang tidak membawa misi perubahan.
Rasulullah, juga rasul-rasul yang lain mewariskan perubahan. Karena perubahan itu sunnatullah.
Masyarakat Indonesia mayoritas muslim, maka spirit perubahan harus disadari sebagai warisan dan ekspresi cinta Rasulullah. Indonesia tidak boleh stag. Harus terus bergerak dan melakukan perubahan. Berubah dari yang buruk ke yang baik. Dari yang baik ke yang lebih baik. Dari yang tradisional ke yang modern.
Perubahan juga harus terjadi tidak saja di pusat, tapi juga di daerah-daerah.
Dalam teori Herois Thomas Charlyle mengatakan: perubahan itu dimulai dari pemimpinnya.
Indonesia saat ini sedang melaksanakan Pilkada serentak yang tujuannya untuk mencari para pemimpin terbaik di negeri ini yang kelak akan menerima amanah untuk mengurus umat. Maka, setiap calon pemimpin yang bisa diharapkan untuk membawa perubahan mesti diberikan peluang, agar laju Indonesia punya rute perubahan.
Samarinda, 17 September 2024.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20240624_Rudy-Masud-Anggota-Komisi-III-DPR-RI-Dapil-Kaltim.jpg)