Berita Samarinda Terkini
Teras Samarinda Jadi Ikon Baru, DPRD Minta Pemkot Seimbangkan Unsur Modern dan Kearifan Lokal
Teras Samarinda jadi ikon baru Kota Tepian, DPRD minta pemkot seimbangkan unsur modern dan kearifan lokal.
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Diah Anggraeni
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Teras Samarinda segmen pertama yang telah dibuka untuk umum beberapa waktu lalu, kini menjadi daya tarik bagi masyarakat.
Meski demikian, sejumlah kalangan menilai bahwa desain bangunan dan tata ruang terkesan modern, sehingga kurang menyentuh akar budaya Samarinda dan Kalimantan Timur.
Salah satunya disampaikan anggota Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar.
Menurutnya, proyek ambisius tersebut kurang mengintegrasikan elemen budaya lokal.
"Teras Samarinda memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kota yang merefleksikan identitas kita. Namun, saya melihat masih banyak ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal penggambaran budaya lokal,” ujar Deni.
Baca juga: Andi Harun-Syaefuddin Zuhri Paparkan Visi Misi di Teras Samarinda, Fokus pada SDM dan Infrastruktur
Meski demikian, Deni mengaku optimis bahwa Pemkot Samarinda masih memiliki peluang untuk mengembangkan ornamen budaya lokal di beberapa segmen Teras Samarinda selanjutnya.
Pasalnya, Pemkot Samarinda memang memiliki rencana besar untuk mengembangkan Teras Samarinda sepanjang 6,3 kilometer yang membentang dari Jembatan Mahakam IV hingga kawasan Klenteng Thien Ie Kong.
"Saya optimistis, pemkot bisa melakukannya di segmen-segmen berikutnya," ujarnya.
Terlebih, kawasan Teras Samarinda nantinya akan memadukan jalur pedestrian darat dan air serta berbagai zona yang memiliki fungsi berbeda, seperti zona budaya yang mencakup Kampung Islami dan Pusat Islami.
Baca juga: Parking Gate Teras Samarinda Belum Terpasang, Varia Niaga Sebut Menunggu Kesiapan Jaringan Listrik
Namun, kata Deni, konsep ini dinilai terlalu umum dan kurang mendalam dalam merepresentasikan kekayaan budaya lokal Samarinda.
Bahkan, zona-zona lain seperti zona kota tua juga dikhawatirkan nantinya dapat menimbulkan pertanyaan mengenai keberhasilannya dalam merevitalisasi kawasan bersejarah, sambil tetap mempertahankan karakteristik asli kota.
Meskipun ada upaya untuk menciptakan ruang publik yang menarik, seperti zona lobi tamu, kekhawatiran tetap ada mengenai sejauh mana zona ini benar-benar mencerminkan identitas budaya Samarinda.
"Sebab itu, saya berharap masukan ini dapat dijadikan evaluasi oleh Pemkot. Karena perlu keseimbangan antara elemen modern dan budaya asli Samarinda agar lebih mencerminkan identitas kita,” pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.