Selasa, 28 April 2026

Pilkada Kaltim 2024

Besok Debat Pilkada Kaltim 2024, Tema Ekonomi dan Lingkungan, Ini Tanggapan Pemerhati Lingkungan

Di debat terakhir Pilkada Kaltim 2024, Isran-Hadi dan Rudy-Seno akan beradu gagasan dalam tema Ekonomi, Pendapatan Daerah, Kebudayaan dan Lingkungan

Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Nur Pratama
TribunKaltim.co/Nevrianto Hardi Prasetyo
Ilustrasi batu bara yang dibawa melalui Sungai Mahakam. 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Calon Kepala Daerah di Pilkada Kaltim 2024 disorot terkait pentingnya keberpihakan untuk membenahi kondisi ekologis yang semakin hari kian memprihatinkan.

Kondisi lingkungan Bumi Etam akibat indsutri ekstraktif harus jadi konsen para calon pemimpin bagaimana ke depan membenahi kondisi tersebut.

Diketahui, debat terakhir calon kepala daerah yang ikut dalam Pilkada Kaltim 2024 antara Isran-Hadi dan Rudy-Seno ini akan digelar Jumat (22/11/2024) pukul 20.00 Wita.

Di debat terakhir Pilkada Kaltim 2024, Isran-Hadi dan Rudy-Seno akan beradu gagasan dalam tema Ekonomi, Pendapatan Daerah, Kebudayaan dan Lingkungan.

Baca juga: Inilah Nama Baru Bandara IKN Kaltim, Desember 2024 Sudah Bisa Didarati Pesawat Berbadan Lebar

Sorotan terkait isu lingkungan, datang dari pemerhati lingkungan dari Unit Kajian Kebumian dan Konservasi Lingkungan UMKT, Fajar Alam.

Kemudian penggiat pangan lokal dan lingkungan, Maulana Yudhistira.

Mereka yang tergabung juga di Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kaltim tersebut memang konsen dalam isu–isu lingkungan.

Maulana Yudhistira menyampaikan dampak industri ekstraktif terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat Kaltim ke depan.

Hampir semua sisi tatanan sosial budaya bahkan hajat hidup orang lain sampai nyawa masyarakat dianggap tidak penting akibat industri ekstraktif.

Saya mulai mengenal industri ekstraktif sejak kecil, ketika Sungai Mahakam masih penuh dengan kayu yang dihanyutkan. Namun, kini yang ada adalah kapal-kapal tambang (batu bara) yang semakin merusak lingkungan,” ungkapnya.

Menurutnya, industri tambang yang masif di Kaltim sangat memberi dampak besar bagi lingkungan dan kehidupan sosial masyarakat.

Terlebih Sungai Mahakam, yang dulunya menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang.

“Sungai ini, sekarang hanya melahirkan konglomerat, sementara masyarakat sekitar semakin terpinggirkan,” imbuhnya.

Bencana banjir yang semakin parah di beberapa wilayah, juga dianggap sebagai dampak dari eksploitasi industri ekstraktif yang ugal–ugalan.

Ia prihatinan terhadap masa depan Kaltim yang semakin sulit dipulihkan akibat kerusakan ekologis yang terus berlanjut.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved