Berita Samarinda Terkini
Polemik Bentuk Tugu Pesut Mahakam Samarinda, Dosen Ilmu Budaya dari Unmul Beri Pandangan
Tugu Pesut Mahakam yang baru-baru ini diresmikan di kawasan Simpang Empat Mall Lembuswana, Kota Samarinda, Kaltim
Penulis: Sintya Alfatika Sari | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Tugu Pesut Mahakam yang baru-baru ini diresmikan di kawasan Simpang Empat Mall Lembuswana, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Berbagai komentar muncul, baik yang mendukung maupun yang mengkritik desain abstraknya.
Terkait hal ini, akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Dahri Dahlan, memberikan pandangannya.
Saat dihubungi TribunKaltim.co, Dahri Dahlan mengungkapkan pandangannya bahwa desain Tugu Pesut Mahakam tersebut memang berbeda dengan konsep realistis.
Baca juga: Walikota Samarinda Andi Harun Berlapang Dada Dikritik soal Tugu Pesut Mahakam
Menurutnya, kritik yang muncul dari sebagian masyarakat bisa dimaklumi, mengingat tak sedikit masyarakat yang belum memahami konsep desain tersebut.
"Menurut saya itu konsepnya futuristik. Itu beririsan dengan konsep modernis. Masalahnya, publik yang tidak mengerti konsep seperti ini pasti protes," ujarnya pada Senin (6/1/2025).
Selain itu, Dahri menilai bahwa kritik yang muncul lebih banyak disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang seni modern dan aliran-aliran seni kontemporer.
Ia menjelaskan, karya seni dengan pendekatan futuristik memang memerlukan sudut pandang yang berbeda dari yang biasa digunakan masyarakat pada umumnya.
"Hal ini juga sekaligus bisa menjelaskan, kebanyakan warga (yang protes) tidak mengerti, betapa beragam aliran dan cara pandang terhadap karya seni," tambahnya.
Baca juga: Makna Tugu Pesut di Dekat Jembatan Mahakam IV Samarinda, Karya Seniman Bandung
Ia juga menjelaskan bahwa jika dilihat menggunakan "kacamata realis," desain tugu memang akan sulit untuk dipahami sebagai representasi dari Pesut Mahakam.
"Menurut saya itu memang pesut, tapi dalam model futuristik. Kalau pakai kaca mata realis, tidak bakal bisa lihat kalau itu pesut," jelas Dahri.
Dosen Sastra FIB Samarinda ini berharap masyarakat dapat lebih terbuka dan menerima keragaman perspektif dalam menilai karya seni.
Menurutnya, sebuah karya seni, terutama yang bernuansa modern dan futuristik, membutuhkan pemahaman yang lebih luas agar dapat diapresiasi secara baik.
Baca juga: Tugu Pesut di Simpang Lembuswana Jadi Ikon Baru Kota Samarinda, Habiskan Anggaran Rp 1,1 Miliar
"Menurut saya ini soal pengetahuan saja. Yang punya pengetahuan cukup soal itu pasti tidak ribut," pungkasnya. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.