Hari Jadi Kota Samarinda
Sejarah Kota Samarinda, Bagaimana Asal Usul Nama dan Kapan Hari Jadinya Diperingati?
Januari ini menjadi bulan yang istimewa bagi masyarakat Kota Samarinda. Pasalnya, kota yang terkenal dengan konsep Smart City tersebut akan segera
TRIBUNKALTIM.CO - Januari ini menjadi bulan yang istimewa bagi masyarakat Kota Samarinda.
Pasalnya, kota yang terkenal dengan konsep Smart City tersebut akan segera menyambut usia 357 tahun (Kota Samarinda) dan 65 tahun bagi Pemerintahan Kota (Pemkot) Samarinda.
Samarinda sendiri merupakan ibu kota bagi Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan laman resmi Pemkot Samarinda pada samarindakota.go.id, sebelum dikenal dengan nama tersebut, kawasan ini termasuk ke dalam Kerajaan Kutai Kartanegara yang berdiri pada tahun 1300 Masehi di Kutai Lama, sebuah kawasan di daerah hilir Sungai Mahakam dari arah tenggara Samarinda.
Kerajaan Kutai Kartanegara merupakan daerah taklukan dari Kerajaan Banjar yang semula bernama Kerajaan Negara Dipa, ketika dipimpin oleh Maharaja Suryanata.
Baca juga: HUT Ke-357 Kota Samarinda dan HUT ke-65 Pemkot Samarinda, Ini Wali Kota Samarinda dari Masa ke Masa
Semula, pusat Kerajaan Kutai Kartanegara di Kutai Lama berada di Jahitan Layar, lalu berpindah ke Tepian Batu pada 1635. Kemudian, berpindah lagi ke Pemarangan (Jembayan) pada 1732 hingga terakhir di Tenggarong sejak tahun 1781 hingga 1960.
Adapun penduduk awal yang mendiami Kalimantan Timur adalah Suku Kutai Kuno yang disebut Melanti dan termasuk dalam ras Melayu Muda (Deutro Melayu), sebagai hasil percampuran ras Mongoloid, Melayu, dan Wedoid yang bermigrasi dari Semenanjung Kra pada abad kedua sebelum masehi (SM).
Pada abad ke-13 Masehi (sekitar tahun 1201-1300), sebelum dikenal dengan nama Samarinda, telah terdapat perkampungan penduduk di enam lokasi, yakni Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas).
Penyebutan enam kampung ini tercantum dalam manuskrip atau naskah surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (atau 20 Februari 1849 Masehi), yang kemudian dikutip oleh ahli sejarah Belanda, C. A. Mees.
Masuknya Suku Banjar ke Samarinda
Suku Banjar merupakan suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur.
Keberadaan Suku Banjar di Samarinda dan daerah lainnya di Kalimantan Timur tak dikategorikan sebagai kaum pendatang, karena sebelum pembentukan provinsi pada 1957, Pulau Kalimantan kecuali daratan Malaysia dan Brunei merupakan satu provinsi dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Yakni Kalimantan dengan ibu kota Banjarmasin.
Baca juga: 15 Ide Caption Ucapan HUT Samarinda 2025 yang Unik dan Menarik, Cocok untuk Media Sosial
Awal pemukiman Suku Banjar di daerah Kalimantan Timur dimulai sejak Kerajaan Kutai Kartanegara berada dalam otoritas Kerajaan Banjar, setelah runtuhnya Kesultanan Demak pada 1546 Masehi.
Hal ini dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada 1976.
Sampai pertengahan abad ke-17 (dekade 1650-an), wilayah Samarinda merupakan lahan persawahan dan perladangan beberapa penduduk yang pada umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan Karang Asam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250120_SAMARINDA-TEMPO-DULU.jpg)