Opini
Perempuan Holistik, Fondasi Indonesia Emas 2045
Saat kita berbicara tentang cita-cita Indonesia Emas 2045, pembicaraan itu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi perempuan hari ini
Perempuan Holistik, Fondasi Indonesia Emas 2045
Oleh: Monika Harahap, Education System Assistance, Tanoto Foundation
Saat kita berbicara tentang cita-cita Indonesia Emas 2045, pembicaraan itu sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kondisi perempuan hari ini. Perempuan bukan sekadar ''penerima manfaat'' pembangunan, melainkan aktor utama dalam membentuk masa depan bangsa.
Sayangnya, hingga saat ini, berbagai tantangan gender masih membayangi langkah perempuan Indonesia. Tingginya beban ganda (double burden) perempuan harus bekerja sekaligus mengurus rumah tangga dan anak tanpa dukungan sistem yang memadai menjadi salah satu faktor yang memperbesar ketimpangan ini.
Hal ini terefleksi dari data BPS tahun 2024, di mana angka tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia baru menyentuh 54,52persen.
Angka ini diproyeksi oleh International Labour Organization akan menempatkan Indonesia menjadi negara dengan angka terendah ketiga di Asia Tenggara pada tahun 2025.
Baca juga: Tanoto Foundation Dukung RPJMD Paser 2025-2029, Fokus Pendidikan dan Pengasuhan Anak Usia Dini
Pada tataran kebijakan yang idealnya membantu mengatasi hal ini merefleksikan hal serupa. Pemilu 2024 lalu mencatat perempuan yang terpilih sebagai anggota DPR RI hanya mencapai sekitar 22 persen padahal kebijakan ketentuan kuota 30 persen perempuan dalam daftar calon legislatif telah dikeluarkan.
Senada pada tingkat daerah, hanya 8,26 persen kepala daerah perempuan terpilih. Belum lagi, hanya ada lima menteri perempuan dari 48 menteri di Kabinet Merah Putih.
Padahal, kebijakan yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat seharusnya mencerminkan keberagaman perspektif dan inklusif, termasuk terhadap suara perempuan.
PAUD Holistik Integratif: Investasi Gender yang Terlupakan
Salah satu jalan strategis untuk mengatasi ketimpangan ini dan mempercepat pembangunan sumber daya manusia adalah memperkuat layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Holistik Integratif.
PAUD Holistik Integratif (PAUD HI) adalah pendekatan lintas sektor yang memberikan layanan terintegrasi pendidikan, kesehatan, gizi, perlindungan, dan kesejahteraan psikososial kepada anak-anak usia 0–6 tahun dan keluarga mereka. Bukan hanya fokus pada anak, PAUD HI juga memperkuat kapasitas pengasuhan orang tua, terutama ibu.
Mengapa ini penting dalam konteks gender? Karena saat negara membangun sistem PAUD HI yang kuat:
- Perempuan mendapatkan dukungan untuk mengasuh anak dengan informasi, layanan kesehatan, dan stimulasi yang tepat.
- Perempuan punya pilihan untuk mengejar pendidikan, berpartisipasi dalam ekonomi, dan mengembangkan diri, karena pengasuhan tidak sepenuhnya dibebankan secara privat di rumah.
- Perempuan terhindar dari beban pengasuhan yang eksklusif, yang selama ini menjadi hambatan struktural bagi kesetaraan gender.
Dalam masyarakat di mana layanan PAUD HI tersedia luas dan bermutu, perempuan memiliki peluang lebih besar untuk mengakses dunia kerja, berdaya secara ekonomi, dan terlibat dalam ruang-ruang pengambilan keputusan.
Laporan OECD tahun 2012 berjudul ''Starting Strong III: A Quality Toolbox for Early Childhood Education and Care'' menunjukkan bahwa investasi pada layanan usia dini tidak hanya berdampak pada perkembangan anak, tetapi juga meningkatkan partisipasi kerja perempuan, khususnya di negara-negara Skandinavia.
Baca juga: Tana Tidung Perkuat Mutu Pendidikan dengan Kolaborasi Tanoto Foundation
Hal ini ditegaskan kembali oleh studi The World Bank tahun 2018, berjudul ''Quality Early Learning: Nurturing Children's Potential'' yang menemukan bahwa layanan anak usia dini yang berkualitas tinggi berkontribusi pada kesetaraan gender dengan memungkinkan lebih banyak perempuan bekerja di luar rumah.
Artinya, layanan PAUD Holistik Integratif adalah kebijakan pro-gender: memberi perempuan kesempatan sekaligus membebaskan potensi generasi masa depan.
Di Indonesia: Jalan Masih Panjang
Indonesia sendiri sudah memiliki dasar regulasi yang kuat, UU No. 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak (UU KIA) dan Perpres No. 60 Tahun 2013 tentang PAUD Holistik Integratif (PAUD HI).
Namun implementasi di lapangan masih jauh dari harapan:
- Layanan PAUD HI belum merata dan berkualitas.
- Koordinasi antar sektor (pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial) masih lemah.
- Anggaran untuk penguatan pengasuhan usia dini belum menjadi prioritas di banyak daerah.
Oleh karena itu, dibutuhkan koordinasi yang strategis dan gerak cepat dari para pemangku kebijakan untuk menjadikan isu anak dan perempuan ini menjadi prioritas, serta penguatan layanan PAUD Holistik Integratif sebagai hak dasar setiap anak Indonesia, tak peduli di kota besar atau pelosok desa.
Membebaskan Perempuan, Membebaskan Generasi
Jika Indonesia ingin serius mencapai Generasi Emas 2045, kita harus menempatkan perempuan dan anak dalam satu ekosistem dukungan holistik, artinya:
- Memberdayakan perempuan bukan hanya dengan program pelatihan keterampilan, tetapi juga dengan membangun sistem layanan publik yang mendukung pengasuhan anak usia dini.
- Memperluas akses PAUD Holistik Integratif sebagai hak dasar, bukan layanan tambahan.
- Mengubah paradigma kebijakan dari sekadar ''memberdayakan perempuan'' menjadi ''membebaskan perempuan dari hambatan struktural'' termasuk beban pengasuhan yang tidak didukung sistem.
Program-program seperti program peningkatan kualitas pengasuhan dan stimulasi dini bagi anak usia 0–3 tahun dari Tanoto Foundation yang dilaksanakan melalui advokasi kebijakan serta pendampingan implementasi dua regulasi (Undang-undang KIA & Perpres PAUD HI) menjadi contoh konkret bagaimana investasi pada perempuan dan anak dapat berjalan beriringan.
Melalui penguatan layanan usia dini, Tanoto Foundation berkontribusi mendorong sistem yang lebih adil bagi perempuan dan lebih cerdas bagi generasi masa depan.
Indonesia Emas Berawal dari Perempuan yang Merdeka
Saat Indonesia merayakan 100 tahun kemerdekaannya pada 2045, kita bermimpi menyaksikan lahirnya generasi muda yang tak hanya cerdas, sehat, dan berdaya, tetapi juga memiliki keberanian untuk membawa bangsa ini menuju puncak peradaban dunia. Lahirnya generasi yang berdaya pikir seperti di antaranya:
- Kartini;
- Rasuna Said;
- Dewi Sartika;
- dan Rohana Kudus.
Namun, mimpi besar itu mustahil terwujud tanpa meletakkan perempuan di pusat agenda pembangunan. Karena perempuan bukan hanya penjaga peradaban; mereka adalah pencipta masa depan.
Baca juga: Kemendikbudristek dan Tanoto Foundation Kolaborasi Salurkan 3.422 Buku Bermutu di Kukar
Untuk itu, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar slogan tentang pemberdayaan perempuan. Kita membutuhkan tindakan nyata: membangun sistem yang memungkinkan perempuan bebas dari beban struktural yang menghambat, termasuk akses terhadap layanan pengasuhan anak usia dini yang berkualitas.
PAUD Holistik Integratif adalah salah satu kunci transformasi itu. Dengan memperluas akses dan memperkuat kualitas layanan ini, kita tidak hanya membangun fondasi emas bagi anak-anak Indonesia, tetapi juga membebaskan potensi luar biasa yang selama ini tersembunyi di balik perjuangan sunyi para perempuan.
Bayangkan sebuah Indonesia di mana setiap ibu mendapatkan dukungan maksimal untuk mengasuh, mendidik, dan mengembangkan anak-anaknya tanpa harus mengorbankan impiannya.
Bayangkan sebuah bangsa di mana perempuan bisa sepenuhnya berkontribusi di ruang-ruang pengambilan keputusan, tanpa terkendala beban domestik yang tidak proporsional.
Inilah Indonesia Emas yang sesungguhnya: sebuah bangsa yang menghormati perempuan sebagai penopang, penggerak, dan pencipta perubahan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250421_TanotoKartini1.jpg)