Opini
Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Literasi “PR” yang Tak Kunjung Tuntas
Hardiknas jadi momentum refleksi: literasi pendidikan Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar
Penulis: Sumarsono | Editor: Amelia Mutia Rachmah
Oleh: Sumarsono, S.Sos, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim/TribunKaltim.co
TRIBUNKALTIM.CO - Tanggal 2 Mei merupakan momen spesial bagi masyarakat Indonesia, khususnya bagi para pelaku di dunia pendidikan, yakni Hari Pendidikan Nasional atau Hardiknas.
Sejak diperingati pertama kalinya di era Presiden RI pertama Ir Soekarno, tahun 1960 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, tahun ini kita memperingati Hardiknas yang ke-67.
Artinya, pendidikan nasional sudah memasuki usia yang matang atau tahap kedewasaan.
Ibarat matahari, usia ke-67 sudah mulai masuk ke peraduannya. Namun, berbagai persoalan pendidikan di negeri ini masih banyak yang harus diselesaikan.
Warisan Ki Hajar Dewantara
Kilas balik sejarah penetapan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional mengacu pada hari lahirnya Ki Hajar Dewantarayang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.
Perlu diketahui, Ki Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa dan mantan Menteri Pendidikan pertama pada kepemimpinan Presiden Soekarno.
Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 dan wafat pada 26 April 1959 di Yogyakarta.
Ia merupakan seorang bangsawan yang tidak mempertahankan kebangsawanannya, tetapi memilih turun langsung untuk mengangkat derajat rakyat melalui pendidikan.
Baca juga: Gerakan Literasi Balikpapan, Menyelami Makna Surat Kartini dan Beranda Instagramnya Maryam
Ia dikenal dengan semboyan “Ing ngarso sung tuladha - Ing madya mangun karsa - Tut wuri handayani”.
Ajaran ini bukan hanya slogan, tetapi merupakan Trilogi Kepemimpinan Pendidikan.
Namun realita yang terjadi dalam dunia pendidikan di negeri kita saat ini masih jauh dari apa yang diharapkan Ki Hajar Dewantara.
Setiap memperingati Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei, masih terkesan sekadar dipenuhi oleh residu pidato yang manis. Slogan tentang “mencerdaskan kehidupan bangsa” menggema dari berbagai podium.
Ketika gema itu surut, kita kembali dihadapkan pada realitas yang dingin: pendidikan kita masih sering terjebak dalam formalitas, sementara ruh utamanya—yakni literasi—masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang tak kunjung tuntas.
Data PISA 2022 menjadi “alarm” yang seharusnya membuat kita terjaga. Skor literasi dan numerasi pelajar Indonesia yang konsisten di bawah rata-rata negara OECD bukan sekadar angka statistik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250406_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)