Senin, 13 April 2026

Berita Kaltim Terkini

Jelang Idul Adha DPKH Kaltim Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Aman, Sapi Surplus 7.944 Ekor

DPKH Provinsi Kalimantan Timur memastikan bahwa pasokan hewan kurban di daerah tersebut dalam kondisi aman

Penulis: Raynaldi Paskalis | Editor: Nur Pratama
TRIBUNKALTIM.CO/RAYNALDI PASKALIS
HEWAN QURBAN - Kepala DPKH Kaltim, Fahmi Himawan saat di wawancarai di ruangannya. Rabu (21/5/2025) DPKH Kaltim memastikan ketersediaan hewan kurban 2025, baik sapi, kambing, maupun domba, dalam kondisi aman dan surplus, seiring meningkatnya produksi peternak lokal dan tren pergeseran pilihan kurban di masyarakat. (TRIBUNKALTIM.CO/RAYNALDI PASKALIS) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Menyambut Idul adha 2025, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Provinsi Kalimantan Timur memastikan bahwa pasokan hewan kurban di daerah tersebut dalam kondisi aman dan mencukupi. 

Kepala DPKH Kaltim, Fahmi Himawan, menyampaikan bahwa pihaknya telah mengumpulkan data dari 10 kabupaten/kota di Kaltim untuk menghitung kebutuhan dan ketersediaan hewan kurban secara akurat.

"Di tahun 2025 berdasarkan masukan dari teman-teman kabupaten kota, petugas-petugas yang ada di kabupaten kota, sepertinya akan terjadi penurunan kebutuhan sapi kurban," ujar Fahmi Senin (21/5/2025).

Baca juga: DPKH Kaltim Masih Datangkan Sapi dan Kambing dari Luar Daerah untuk Penuhi Hewan Kurban

Penurunan kebutuhan sapi tahun ini diperkirakan berada di angka 16.890 ekor, turun dari 17.104 ekor pada 2024. Meski kebutuhan menurun, ketersediaan justru mengalami peningkatan signifikan, yakni mencapai 24.834 ekor sapi. Dengan demikian, Kaltim memiliki surplus sapi kurban sebanyak 7.944 ekor.

Menurut Fahmi, ketersediaan sapi paling banyak tercatat di Kota Samarinda. Hal ini disebabkan karena kota tersebut menjadi pelabuhan utama masuknya sapi dari luar daerah, terutama dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Tercatat sebanyak 6.957 ekor sapi dari NTT masuk melalui pelabuhan di Samarinda.

"Ketersediaan paling banyak ada di kota Samarinda karena memang itu termasuk sapi luar yang masuk ya," ungkap Fahmi.

Setelah Samarinda, daerah dengan ketersediaan sapi terbanyak adalah Kutai Kartanegara (4.240 ekor) dan Balikpapan (4.000 ekor). 

Namun dari sisi kebutuhan, Kutai Kartanegara menempati posisi tertinggi dengan 4.142 ekor, diikuti Balikpapan 3.219 ekor dan Samarinda 2.626 ekor.

"Kemungkinan memang diindikasikan akan terjadi penurunan sapi karena beralih ke komoditas yang lain," tambah Fahmi.

Faktor utama yang menyebabkan pergeseran ini adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap hewan kurban alternatif seperti kambing dan domba.

Selain itu, domba kini telah diperbolehkan masuk kembali ke Kaltim setelah sebelumnya sempat dilarang, memberikan lebih banyak pilihan bagi masyarakat.

Tren perubahan preferensi juga dipengaruhi oleh pandangan keagamaan yang mulai banyak beredar di masyarakat. Banyak yang mulai menilai bahwa kurban satu ekor kambing atas nama keluarga dinilai lebih utama dibandingkan kurban kolektif satu ekor sapi oleh beberapa orang yang tidak memiliki ikatan keluarga.

"Jadi beberapa masyarakat kita sekarang lebih memilih berkurban nama keluarga dengan satu ekor kambing," jelas Fahmi.

Selama ini, praktik kurban kolektif masih banyak dilakukan oleh kelompok perkantoran atau komunitas non-keluarga. Namun kini, kecenderungan itu mulai berubah seiring dengan pertimbangan nilai ibadah yang lebih tinggi jika dilakukan secara individual atau keluarga.

"Sejak tahun ini, kami juga mewajibkan pengadaan hewan kurban untuk instansi pemerintah, termasuk kantor-kantor, agar diambil dari PDKT (Pusat Distribusi dan Kemitraan Ternak). Jadi selain menjamin kualitas, ini juga membantu perputaran ekonomi peternak lokal," tambahnya.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved