Rabu, 22 April 2026

Berita Balikpapan Terkini

Permintaan Global Batubara Diprediksi Turun Tajam, Transisi Energi Jadi Solusi

Permintaan global terhadap batubara diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade mendatang

TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD ZEIN RAHMATULLAH
PERMINTAAN MENURUN - Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, menyampaikan materi dalam pelatihan bertema "Apa Itu Transisi Energi & Bagaimana Meliputnya?" di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (4/6/2025). Dia menyebut, permintaan global batubara diprediksi turun drastis hingga lebih dari 70 persen sebelum 2050, seiring komitmen negara-negara menjalankan transisi energi menuju nol emisi. (TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD ZEIN RAHMATULLAH) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Permintaan global terhadap batubara diperkirakan akan mengalami penurunan signifikan dalam beberapa dekade mendatang.

Hal ini dikemukakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, merujuk pada data International Energy Agency (IEA) yang menunjukkan arah penurunan konsumsi batubara global dalam berbagai skenario transisi energi.

Dicky menyebutkan bahwa IEA merumuskan tiga skenario utama terkait masa depan permintaan batubara, yakni Stated Policies Scenario (STEPS), Announced Pledges Scenario (APS), dan Net Zero Emissions by 2050 Scenario (NZE).

Masing-masing skenario merepresentasikan tingkat keseriusan negara-negara dalam menjalankan kebijakan iklim.

“Permintaan batubara akan turun drastis jika seluruh negara memenuhi komitmen iklim mereka secara konsisten,” tegas Dicky di Balikpapan, Rabu (4/6/2025).

Dalam skenario STEPS, yang mencerminkan kebijakan iklim saat ini, permintaan batubara menurun perlahan.

Baca juga: Presiden Prabowo Subianto Sumbang Sapi Kurban di Mesjid Al Ula Balikpapan 

Sebaliknya, skenario APS yang memperhitungkan pelaksanaan penuh janji iklim negara-negara, memperlihatkan penurunan lebih tajam.

Penurunan paling drastis diproyeksikan terjadi dalam skenario NZE, yang menargetkan nol emisi bersih pada 2050.

Data grafik menunjukkan bahwa total konsumsi batubara global pada 2021 berada di atas 5.500 juta ton setara batubara (Mtce).

Namun, menurut Dicky, jika komitmen iklim dijalankan sepenuhnya, permintaan global diprediksi turun 20 persen sebelum 2030 dan lebih dari 70 persen sebelum 2050 dibandingkan angka tahun 2021.

Penurunan permintaan batubara ini akan terjadi di seluruh sektor pengguna, terutama pembangkit listrik, industri, dan sektor lainnya.

Baca juga: PTMB Aktifkan 2 Sumur Lama di Kawasan Balikpapan Timur dan Barat

Sektor pembangkit listrik akan mengalami penurunan paling besar, seiring dengan pergeseran ke energi terbarukan, peningkatan efisiensi energi, dan adopsi teknologi rendah karbon.

"Transisi energi adalah kunci untuk menekan emisi gas rumah kaca secara global," kata Dicky.

Ia menekankan pentingnya kebijakan dekarbonisasi agar ketergantungan pada batubara dapat dikurangi secara signifikan, demi menahan laju perubahan iklim.

Meski begitu, Dicky menegaskan bahwa transisi dari energi berbasis batubara menuju energi bersih bukan tanpa tantangan.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved