Berita Internasional Terkini
Update Perang Iran vs Israel Terbaru 2025, Kemlu Evakuasi 101 WNI Lewat Jalur Darat
Update perang Iran vs Israel terbaru 2025, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) mengevakuasi 101 WNI lewat jalur darat.
Timur Tengah merupakan penghasil minyak utama, yang menyumbang hampir 30persen produksi global.
Gangguan pada pasokan dari Iran yang produksinya mencapai 3,2 juta barel per hari akan memicu gangguan pasokan sekaligus memicu fluktuasi harga energi di pasar internasional.
Harga minyak Brent telah berfluktuasi antara US$ 73 hingga US$ 92 per barel pasca perang Iran-Israel, dengan analis memperingatkan potensi kenaikan 15persen-20persen pada 2025.
Baca juga: Iran Minta Warganya Berhenti Pakai WhatsApp Imbas Khawatir jadi Alat Mata-mata Israel, Ini Kata Meta
Volatillitas harga energi dunia juga semakin tinggi seiring dengan munculnya ancaman penutupan selat Hormuz yang telah menjadi urat nadi jalur pasokan energi dunia.
“Karena itu, industri dalam negeri diminta lebih efisien penggunaan energi dalam proses produksi. Penggunaan energi lebih efisien dari berbagai sumber dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing produk industri. Sekaligus mendukung kedaulatan energi nasional sebagaimana telah dicanangkan oleh Presiden Prabowo,” ungkap Agus dalam keterangan resmi, Selasa (17/6).
Di samping menggunakan energi secara efisien, Kemenperin mendorong pelaku industri mendiversifikasi sumber energi yang digunakan dalam produksi.
“Industri nasional harus mulai mengandalkan sumber energi domestik, termasuk energi baru dan terbarukan seperti bioenergi, panas bumi, serta memanfaatkan limbah industri sebagai bahan bakar alternatif,” tambah Agus.
Selain itu, Kemenperin terus mendorong agar sektor manufaktur dapat menghasilkan produk-produk yang mendukung program ketahanan energi nasional.
Antara lain mesin pembangkit, infrastruktur energi, dan komponen pendukung energi terbarukan.
Di sektor pangan, Agus menyoroti urgensi hilirisasi produk agro sebagai respons strategis terhadap dampak tidak langsung perang Iran–Israel terhadap ekonomi global.
Agus mengingatkan tiga faktor: logistik, inflasi, dan nilai tukar secara langsung bisa meningkatkan harga bahan baku dan produk pangan impor.
"Maka jawabannya adalah hilirisasi produk pangan dalam negeri. Industri kita harus mengambil peran dalam memproses hasil pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan domestik agar tidak terus bergantung pada bahan baku pangan impor,” terang Agus.
Menperin juga menghimbau industri dalam negeri untuk memanfaatkan fasilitas Local Currency Settlement (LCS) menghadapi inflasi dalam input produksi. Industri dapat memanfaatkan fasilitas Bank Indonesia (BI) tersebut guna mengantisipasi dampak perang Iran-Israel terhadap gejolak nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing terutama pada negara-negara yang telah menandatatangi LCS dengan Indonesia.
Industri yang Berpotensi Terdampak
Kemenperin secara khusus menyoroti dampak konflik terhadap rantai pasok global. Rute perdagangan maritim kritis termasuk Selat Hormuz yang menangani 30persen pengiriman minyak global, serta Terusan Suez sebagai jalur bagi 10persen perdagangan dunia, berisiko mengalami gangguan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250621_Peran-Iran-Israel.jpg)