Berita Nasional Terkini
Malam Penuh Misteri: Tradisi Jawa dan Kepercayaan Seputar 1 Suro
Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram.
TRIBUNKALTIM.CO - Berikut informasi terkini mengenai peringatan Malam 1 Suro. Malam ini sering kali dikaitkan dengan perayaan Tahun Baru Islam atau 1 Muharram. Namun, nuansa mistis yang melekat pada Malam 1 Suro bukanlah tanpa alasan.
Dalam tradisi Jawa, 1 Muharram dikenal sebagai Malam 1 Suro dan memiliki makna tersendiri yang berbeda dengan pandangan dalam Islam.
Dalam ajaran Islam, tanggal 1 Muharram merupakan hari suci yang menandai awal tahun baru Hijriah.
Sebaliknya, budaya Jawa memperlakukan malam ini sebagai momen sakral dengan nuansa mistis yang kuat.
Meskipun secara waktu sama, penyebutan dan cara memperingatinya berbeda.
Menurut budaya Jawa, Malam 1 Suro menjadi momen yang dihormati dengan berbagai ritual dan tradisi berunsur spiritual dan supranatural.
Baca juga: Kapan Malam 1 Suro 2025? Bertepatan Malam Jumat Kliwon, Sejarah dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa
Di sisi lain, umat Islam menyambut 1 Muharram dengan makna kesucian dan refleksi spiritual.
Menurut Tribun Jakarta dan referensi dari buku Misteri Bulan Suro: Perspektif Islam Jawa (2010) karya Muhammad Solikhin, istilah "Suro" berasal dari kata Arab "Asyura" yang berarti "sepuluh", merujuk pada tanggal 10 di bulan Muharram.
Meskipun berasal dari akar yang sama, makna dalam praktik budaya Jawa telah bergeser menjadi lebih kental dengan unsur mistik.
Budaya keraton menjadi salah satu faktor penting mengapa bulan Suro dianggap suci dalam masyarakat Jawa.
Muhammad Solikhin menyebut bahwa keraton-keraton di Jawa kerap menggelar ritual khusus untuk memperingati hari-hari besar, termasuk Malam 1 Suro, yang kemudian menjadi warisan budaya turun-temurun.
Lebih jauh lagi, nuansa mistis ini juga dipengaruhi oleh kebijakan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada periode 1628–1629.
Setelah mengalami kekalahan dalam penyerbuan ke Batavia, Sultan Agung melakukan introspeksi dan mencoba menyatukan rakyatnya yang terbagi ke dalam berbagai kepercayaan.
Ia pun memperkenalkan kalender Jawa-Islam, hasil kombinasi antara kalender Saka dari tradisi Hindu dan kalender Hijriah dari Islam.
Selain itu, masyarakat Jawa pada masa itu masih sangat terpengaruh oleh unsur-unsur kepercayaan kuno seperti animisme, dinamisme dan tradisi Hindu.
| Gaji ke-13 2026 untuk PNS dan Pensiunan, Ini Perkiraan Nominal Lengkap per Golongan |
|
|---|
| Bahlil Diminta Kerja Cepat, Prabowo Target Cabut Izin Tambang Ilegal dalam 1 Minggu |
|
|---|
| Wapres Gibran soal Jusuf Kalla Usul Harga BBM Naik, Sebut Tak Sejalan dengan Arahan Prabowo |
|
|---|
| Wapres Gibran Usul Hakim Ad Hoc Sidangkan Kasus Andrie Yunus, Ini Alasannya |
|
|---|
| Prabowo: Avtur Bisa Diproduksi dari Minyak Jelantah sebagai Energi Terbarukan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250619_malam-1-Suro-bertepatan-malam-Jumat-Kliwon_sejarah-dan-maknanya.jpg)