Ekonomi Bisnis
Dosen Ekonomi dari FEB Unmul Samarinda Soroti Risiko Memborong Dolar Saat Rupiah Melemah
Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran baru
Penulis: Ardiana | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.
Bagaimana tidak, di satu sisi, kondisi ini memang dianggap membuka peluang keuntungan bagi sebagian orang yang membeli dolar sejak lama.
Namun di sisi lain, langkah memborong dolar justru bisa memperparah tekanan ekonomi nasional.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Mulawarman Samarinda, Purwadi Purwoharsojo SE MSi CIMA, menilai pembelian dolar secara besar-besaran oleh masyarakat untuk mencari keuntungan pribadi berisiko memberikan dampak negatif terhadap stabilitas ekonomi negara.
Menurutnya, dalam situasi saat ini pemerintah seharusnya mengambil langkah lebih tegas untuk membatasi transaksi dolar, kecuali untuk kepentingan strategis negara seperti pembayaran utang luar negeri atau penambahan cadangan devisa.
Baca juga: Rupiah Ambruk hingga Rp 17.900 per Dollar AS, Fundamental Ekonomi dan Kepercayaan Investor Disorot
"Kalau publik secara ugal-ugalan diperbolehkan mengambil keuntungan dari dolar menurut saya salah," ujarnya kepada TribunKaltim.co pada Minggu (31/5/2026).
Ia menjelaskan, tingginya harga dolar saat ini pada dasarnya mengikuti hukum ekonomi. Ketika permintaan meningkat dan banyak orang berlomba membeli dolar, maka nilai mata uang tersebut akan terus naik dan menjadi semakin langka.
Sebab, Purwadi mengaku khawatir masyarakat justru terjebak dalam pola spekulasi demi mengejar keuntungan dari selisih kurs.
Ia mencontohkan, seseorang yang membeli dolar saat kurs Rp 15 ribu lalu menjualnya ketika mencapai Rp17 ribu tentu memperoleh keuntungan pribadi.
Namun jika perilaku itu dilakukan secara masif, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar.
"Kalau semua orang melakukan seperti itu, negara bisa jebol," ucapnya.
Ia juga menyoroti kondisi Indonesia yang masih bergantung pada impor berbagai kebutuhan pokok dan bahan baku industri.
Menurutnya, pelemahan rupiah otomatis akan membuat biaya impor semakin mahal karena sebagian besar transaksi menggunakan dolar.
"Beras impor, gula impor, jagung impor. Hampir semua tergantung dolar," tambahnya.
Selain faktor global seperti konflik geopolitik dan perang yang memengaruhi ekonomi dunia, bagi Purwadi, kebijakan dalam negeri turut memberi tekanan terhadap pasar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/TUNJUKKAN-DOLAR1.jpg)