Selasa, 9 Juni 2026

Ekonomi Bisnis

3 Dampak Nyata Rupiah Semakin Melemah terhadap Dolar AS ke Level Rp18.201, Jangan Anggap Normal

Sejak pembukaan pasar, kurs rupiah terus terperosok setelah sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp 18.170 per dolar AS

Tayang:
Editor: Budi Susilo
Wartakota/Nur Ichsan-Instagram JamesFSundah
NILAI TUKAR RUPIAH - Ilustrasi warga tengah menghitung uang rupiah pecahan Rp 50 ribu, Sabtu (21/12/2013). Sejak pembukaan pasar, kurs rupiah terus terperosok setelah sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp 18.170 per dolar AS. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA — Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan pada perdagangan Senin (8/6/2026).

Hingga pukul 13.48 WIB, mata uang Garuda terpantau terdepresiasi sebesar 165 poin atau merosot 0,91 persen ke level Rp18.201 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sejak pembukaan pasar, kurs rupiah terus terperosok setelah sebelumnya sempat bertahan di posisi Rp 18.170 per dolar AS.

Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjandra, memperingatkan bahwa efek domino dari kejatuhan kurs rupiah ini tidak lagi terbatas pada sektor pasar keuangan, melainkan sudah mulai mengancam stabilitas sektor riil domestik.

Baca juga: Dolar Tembus Rp18 Ribu, Pelni Balikpapan Pastikan Tarif Tiket Kapal Tak Naik Malah Diskon 30 Persen

Secara garis besar, terdapat 3 dampak utama akibat terpuruknya rupiah terhadap dolar AS yang wajib diwaspadai:

3 Dampak Terpuruknya Rupiah Terhadap Dolar AS

1. Memicu Lonjakan Inflasi dan Menggerus Daya Beli Masyarakat

Pelemahan nilai tukar otomatis menaikkan biaya impor bahan baku bagi industri dalam negeri. Kondisi ini memaksa produsen menaikkan harga jual barang konsumsi di pasar.

Kenaikan harga barang baku dan produksi inilah yang memicu inflasi tinggi, sehingga daya beli masyarakat akan tertekan karena nilai riil pendapatan mereka menurun.

2. Pembengkakan Beban Utang Luar Negeri Perusahaan

Bagi sektor korporasi yang memiliki kewajiban atau utang dalam denominasi dolar AS, pelemahan rupiah adalah kabar buruk.

Perusahaan harus merogoh kocek rupiah jauh lebih dalam hanya untuk membayar bunga dan pokok utang, yang pada akhirnya dapat mengganggu arus kas (cash flow) dan kesehatan finansial perusahaan.

3. Meningkatnya Risiko Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Massal

Apabila tekanan nilai tukar ini berlangsung dalam jangka panjang, efisiensi ekstrem menjadi pilihan terakhir bagi pelaku usaha.

Tingginya biaya produksi yang tidak sebanding dengan daya beli masyarakat yang melemah dapat memaksa perusahaan melakukan perampingan struktur kerja, yang berujung pada meningkatnya angka PHK.

Sorotan pada Fiskal Domestik

Ariston menilai anjloknya rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal. Dari sisi global, keperkasaan dolar AS didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mengatrol harga minyak mentah dunia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved